Hari Musik Sedunia: Dies Irae, Motif Klasik yang Hidupkan Ketegangan dalam Musik

  • 21 Jun 2026 14:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Musik Sedunia (21 Juni) merayakan keberagaman ekspresi musik global.
  • Dies Irae adalah motif klasik bertema “Hari Murka” yang bernuansa kelam dan dramatis.
  • Digunakan Mozart, Verdi, hingga musik film modern untuk membangun ketegangan dan emosi kuat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Musik Sedunia diperingati setiap tanggal 21 Juni di seluruh dunia. Peringatan itu menjadi momentum tahunan yang merayakan keberagaman ekspresi musikal dari berbagai belahan dunia.

Terdapat satu istilah klasik selalu mencuri perhatian para penikmat musik, yakni Dies Irae. Dies Irae berasal dari bahasa Latin yang berarti “Hari Murka”.

Istilah ini merujuk pada bagian dari Misa Requiem dalam tradisi gereja Katolik yang menggambarkan hari penghakiman terakhir. Biasanya, musik dengan tema Dies Irae memiliki nuansa kelam, tegang, dan penuh perenungan.

Dalam sejarah musik klasik, tema ini kerap diolah menjadi motif musikal yang kuat, dramatis, dan sarat emosi. Motif ini banyak digunakan oleh komposer besar seperti Mozart dan Verdi.

Contohnya, Requiem in D minor karya Mozart dan Messa da Requiem karya Verdi. Kemudian, Rachmaninoff sering “menyembunyikan” motif Dies Irae dalam banyak karyanya, seperti Rhapsody on a Theme of Paganini.

Dies Irae bahkan kerap muncul dalam berbagai skor film modern untuk membangun ketegangan dan atmosfer misterius. Contoh ikonik nya adalah Time Go Fishing karya Daniel Pemberton.

Musik ini muncul di film Project Hail Mary. Penonton sekaligus pengamat musik menilai motif ini sesuai dengan adegan menegangkan ketika kedua tokoh utama harus menyelamatkan Bumi dalam satu kesempatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....