INDEF: Pemulihan Bertahap Jadi Kunci Penanganan Blackout Sistem Interkoneksi
- 25 Mei 2026 01:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatra pascagangguan interkoneksi perlu dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan terukur guna menjaga stabilitas sistem
- Hal itu disampaikan Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov
- Menurut Abra, pengalaman berbagai negara menunjukkan gangguan pada sistem interkoneksi modern dapat berkembang cepat menjadi cascading failure
RRI.CO.ID, Jakarta - Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatra pascagangguan interkoneksi perlu dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan terukur guna menjaga stabilitas sistem. Hal itu disampaikan Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov.
Menurut Abra, pengalaman berbagai negara menunjukkan gangguan pada sistem interkoneksi modern dapat berkembang cepat menjadi cascading failure. Atau efek domino ketika frekuensi sistem dan keseimbangan pasokan listrik terganggu.
“Dalam sistem interkoneksi besar, tantangan paling berat justru biasanya muncul saat proses recovery. Operator harus memastikan frekuensi, tegangan, dan sinkronisasi antar pembangkit tetap stabil agar sistem yang mulai pulih tidak kembali jatuh,” kata Abra, Senin, 25 Mei 2026.
Ia mencontohkan sejumlah kasus blackout besar di berbagai negara seperti Amerika Serikat, India, Spanyol, Portugal, Pakistan, hingga Turki yang juga memerlukan proses pemulihan bertahap. Ini untuk menjaga kestabilan jaringan listrik.
Menurut dia, fase recovery menjadi tahapan paling krusial karena kesalahan sinkronisasi saat penyalaan kembali pembangkit dapat memicu gangguan susulan. Bahkan blackout kedua.
Abra menjelaskan pembangkit berbasis thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali normal. Karena harus melewati tahapan pemanasan boiler, sinkronisasi frekuensi, hingga stabilisasi operasi sebelum memasok daya penuh ke sistem interkoneksi.
Sementara itu, pembangkit berbasis hidro dan gas dinilai lebih cepat masuk kembali ke sistem sehingga dapat digunakan sebagai fast response pada tahap awal pemulihan jaringan listrik. “Blackout pada sistem interkoneksi besar berbeda dengan gangguan listrik lokal. Ketika sistem besar mengalami gangguan frekuensi, penyalaannya tidak bisa sekadar dinyalakan kembali seperti saklar,” ujarnya.
Selain proses pemulihan, Abra menilai gangguan sistem kelistrikan Sumatra juga perlu menjadi momentum evaluasi terhadap ketahanan jaringan transmisi nasional. Khususnya di wilayah Sumatra yang masih memiliki karakter jaringan memanjang dan radial di sejumlah koridor transmisi.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat gangguan pada satu titik strategis berpotensi merambat luas ke wilayah lain. Karena itu, penguatan sistem transmisi dan pembangunan jalur alternatif distribusi daya dinilai menjadi kebutuhan penting ke depan.
Abra menilai arah pembangunan Green Enabling Super Grid dalam RUPTL 2025–2034 menjadi langkah strategis untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional. Program tersebut mencakup pembangunan jaringan transmisi, smart grid, sistem pengendalian otomatis, hingga digitalisasi pemantauan jaringan listrik secara real-time.
“Transmisi tidak boleh dipandang sebagai infrastruktur pasif. Jaringan harus lebih adaptif, cerdas, dan mampu menjaga stabilitas sistem ketika terjadi gangguan,” ucapnya.
Ia menambahkan penguatan transmisi juga penting untuk mendukung integrasi energi baru terbarukan seperti PLTA, PLTS. Dan panas bumi yang membutuhkan sistem kelistrikan lebih fleksibel dan terhubung.
Karena itu, Abra mendorong percepatan investasi pada infrastruktur transmisi, gardu induk, sistem proteksi, battery energy storage system, digital substation. Serta teknologi pengendalian beban berbasis digital untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....