Tips Menghindari Modus Baru Penipuan Digital

  • 30 Apr 2026 20:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perkembangan teknologi digital, khususnya penggunaan filter wajah dan kecerdasan buatan (AI), kian membuka celah baru dalam praktik penipuan
  • Modus ini tidak hanya terjadi di ruang daring, tetapi juga merambah interaksi sehari-hari melalui identitas visual yang telah dimodifikasi
  • Pakar Telematika Abimanyu Wachjoewidajat menilai bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral

RRI.CO.ID, Jakarta - Perkembangan teknologi digital, khususnya penggunaan filter wajah dan kecerdasan buatan (AI), kian membuka celah baru dalam praktik penipuan. Modus ini tidak hanya terjadi di ruang daring, tetapi juga merambah interaksi sehari-hari melalui identitas visual yang telah dimodifikasi.

Pakar Telematika Abimanyu Wachjoewidajat menilai bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Namun, dalam praktiknya, fitur seperti filter wajah dan manipulasi visual berbasis AI dapat disalahgunakan untuk membangun kepercayaan semu dan menipu korban.

“Secara fitur sih bagus ya, bisa buat lucu-lucuan, bikin konten jadi lebih menarik. Tapi sekarang tinggal kehati-hatian kita saja untuk lebih mengerti, ada banyak langkah-langkahnya,” kata Abimanyu, Kamis, 30 April 2026.

Ia menjelaskan, banyak kasus penipuan digital tidak semata mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi juga manipulasi psikologis. Penipu kerap memanfaatkan emosi dasar manusia seperti rasa takut dan keinginan memperoleh keuntungan cepat agar korban bertindak tanpa pertimbangan rasional.

Abimanyu menuturkan, pola penipuan tersebut umumnya berjalan melalui tahapan psikologis tertentu yang membuat korban kehilangan kendali secara bertahap. Pendekatan ini dapat dipahami melalui konsep DON’T, yakni Desire, Obey, Normalize, dan Treating.

Menurut dia, tahap awal yang paling krusial adalah Desire, ketika emosi korban mulai dimainkan. Penipu biasanya menyerang dua sisi sekaligus, yakni ketakutan dan keserakahan.

“Ketakutan itu misalnya korban dibuat panik seolah-olah datanya terancam, sementara keserakahan, korban diiming-imingi keuntungan besar. Di titik itu, orang biasanya mulai kehilangan logika,” ujarnya.

Setelah itu, korban masuk ke tahap Obey, yakni mulai menuruti instruksi karena tekanan emosional yang sudah terbentuk. Tahap berikutnya adalah Normalize, ketika permintaan yang sebenarnya tidak lazim mulai dianggap sebagai hal yang wajar.

Pada tahap akhir, yakni Treating, korban mulai secara aktif meladeni permintaan penipu, mulai dari memberikan data pribadi hingga melakukan transaksi. Dalam fase ini, korban umumnya sudah sepenuhnya berada dalam kendali pelaku.

Sebagai langkah antisipasi, Abimanyu menawarkan pendekatan praktis melalui metode 4D yang dapat diterapkan masyarakat untuk menghindari penipuan digital. Metode ini menekankan pentingnya kesadaran, pengendalian diri, serta kemampuan membaca situasi secara kritis.

“Kalau kita mengalami penipuan yang pakai wajah palsu atau filternya diganti. Sebetulnya ada empat hal utama yang bisa kita lakukan, yaitu 4D,” ucapnya.

Ia menjelaskan, langkah pertama adalah Detect atau deteksi, yakni kemampuan mengenali upaya penipuan yang umumnya menggunakan teknik Attention, Awareness, dan Authority. Langkah kedua, Domain, menuntut individu memahami batasan informasi pribadi yang boleh dibagikan.

Langkah berikutnya adalah Diminish, yaitu membatasi pemberian informasi kepada pihak yang tidak jelas identitasnya. Terakhir, Defer, yakni menunda setiap permintaan yang bersifat mendesak untuk memberikan ruang berpikir rasional.

“Penipu biasanya pakai teknik Rapid Rush supaya kita nggak sempat berpikir. Kalau mereka mendesak, kita harus tenang dan bisa bilang, 'Besok saya ke kantor cabang langsung,'” katanya.

Ia menegaskan, peningkatan literasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai modus penipuan yang terus berkembang. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan tidak mudah terjebak dalam manipulasi yang memanfaatkan teknologi maupun sisi psikologis manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....