Insentif Kendaraan Listrik Mendesak saat Harga Minyak Melonjak
- 28 Mar 2026 01:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lonjakan harga minyak global mendorong urgensi penguatan kebijakan kendaraan listrik nasional
- Pemerintah perlu memperkuat insentif kendaraan listrik segera
RRI.CO.ID, Jakarta - Lonjakan harga minyak global mendorong urgensi penguatan kebijakan kendaraan listrik nasional. Kepala Ekonom Permata Bank Joshua Pardede menilai pemerintah perlu memperkuat insentif kendaraan listrik segera.
“Dalam kondisi seperti ini, mengurangi ketergantungan BBM menjadi mendesak. Salah satu langkahnya memperkuat insentif kendaraan listrik,” kata Joshua, Sabtu, 28 Maret 2026.
Ia menjelaskan ketidakpastian energi meningkat akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, Selat Hormuz kembali krusial.
Sebagai jalur utama distribusi energi global pada 2024. Aliran minyak mencapai 20 juta barel per hari.
Setara sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia. Sementara Maret 2026, pasokan global turun 8 juta barel per hari.
Harga Brent bertahan sekitar 108 dolar per barel. Joshua menilai kebijakan insentif 2025 cukup efektif.
Terutama PPN Ditanggung Pemerintah untuk mobil listrik tertentu. Kebijakan itu mendorong pembentukan pasar awal.
Sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik. Ia menilai insentif penting pada tahap awal.
Saat harga kendaraan masih menjadi hambatan utama konsumen. Di tengah pasar otomotif terkontraksi 10 persen.
Penjualan kendaraan listrik justru mengalami peningkatan signifikan. Data wholesales mencatat distribusi 82.525 unit Januari–November 2025.
Dari total penjualan nasional 710.084 unit kendaraan. Dengan capaian tersebut, pangsa pasar mobil listrik mencapai 11,62 persen.
Menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan. Joshua menegaskan tanpa stimulus baru, pasar berisiko melambat.
Namun solusi bukan subsidi luas yang membebani fiskal. Ia mendorong insentif lebih presisi dan terarah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....