Abdul Mu’ti: Profesor Harus Jadi Cahaya Peradaban
- 16 Feb 2026 22:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Medan – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan gelar profesor bukan sekadar pangkat akademik, melainkan amanah untuk menjadi teladan dan pemandu masyarakat di tengah disrupsi digital. Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan arahan pada pengukuhan Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, sebagai Guru Besar ke-27 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Senin, 16 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengutip buku The Death of Expertise karya Tom Nichols yang menyoroti meredupnya otoritas keilmuan di era digital. Ia menilai, saat ini kebenaran kerap ditentukan oleh popularitas dan viralitas di media sosial, bukan oleh ilmu dan hukum.
“Yang paling banyak didukung sering dianggap benar. Padahal yang viral belum tentu aspirasi sesungguhnya, bisa jadi digerakkan oleh robot,” ujarnya.
Ia juga menyinggung buku The Future of Truth karya Werner Herzog yang menggambarkan dunia kian sulit membedakan fakta dan fabrikasi. Abdul Mu’ti menekankan kecerdasan buatan (AI) dapat menjelaskan informasi, tetapi tidak mampu menilai kebenaran secara moral.
Di tengah situasi tersebut, menurutnya, kehadiran cendekiawan, tokoh agama, dan guru besar sangat diperlukan sebagai penjaga nilai dan penuntun moral masyarakat. Mengutip pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Abdul Mu’ti menyebut guru besar sebagai sosok Ulul Albab, akademikus yang mampu berpikir mendalam dan menyingkap makna di balik realitas.
Ia kemudian memaparkan tiga keteladanan yang harus dimiliki seorang profesor. Pertama, keteladanan intelektual, yakni menjunjung tinggi supremasi ilmu dan terus mencintai pengetahuan.
Kedua, keteladanan sosial, yaitu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat sebagai agen perubahan dan peradaban. Ketiga, keteladanan moral dan spiritual, menjadi figur yang “digugu dan ditiru”.
“Guru besar itu di atasnya guru yang tidak besar. Walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar,” ujarnya.
Selain itu, Abdul Mu’ti mengajak para akademisi memperjuangkan dua kebenaran secara bersamaan, yakni kebenaran agama (diniyah) dan kebenaran ilmiah (aqliyah). Menurutnya, perpaduan keduanya menjadi fondasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ia optimistis, dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran tersebut, pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan dasar dan menengah, akan semakin maju dan berkualitas. Abdul Mu’ti menutup arahannya dengan pantun:
“Bunga mekar di pagi hari,
Menghias indah taman kota,
Guru besar berilmu tinggi,
Sang pencerah peradaban bangsa.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....