Inilah Kronologi Wafatnya Jaksa Agung Sederhana Baharuddin Lopa
- 02 Nov 2025 10:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Dua puluh empat tahun sudah kepergian sosok Jaksa Agung Baharuddin Lopa dikenang publik Indonesia. Ia wafat mendadak pada Selasa (3/7/2001), tepat sebulan setelah dilantik Presiden Abdurrahman Wahid.
Kabar duka itu datang saat semangat reformasi penegakan hukum tengah menyala pasca tumbangnya Orde Baru. Kepergian Lopa di tengah upaya besar memberantas korupsi meninggalkan duka dan tanda tanya mendalam.
Selama hidupnya, Lopa dikenal sederhana dan tegas dalam menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Saat menjabat Jaksa Agung, ia berani menyentuh perkara besar yang melibatkan tokoh kuat dan berpengaruh.
Sejak hari pertama di kantor Kejaksaan Agung, Lopa langsung membuka kembali berkas lama kasus besar. Suara Pembaruan (4/7/2001) mencatat, meja kerjanya menumpuk berkas kasus korupsi berskala nasional.
Ia menegaskan tidak akan pilih kasih dalam menegakkan hukum bagi siapa pun yang terlibat. “Saya tidak boleh memilih-milih. Kasus yang belum selesai, diselesaikan,” ujar Lopa kepada wartawan kala itu.
Salah satu langkah beraninya adalah mengaktifkan kembali status tersangka Prajogo Pangestu dalam kasus HTI. Ia juga mengejar Sjamsul Nursalim, tersangka penyalahgunaan dana BLBI senilai Rp7,28 triliun.
Tak berhenti di situ, Lopa membuka kembali kasus penggelapan dana non-neraca Bulog senilai hampir Rp90 miliar. Kasus tersebut menyeret politikus Golkar Akbar Tandjung yang saat itu menjabat Ketua DPR.
Namun, perjuangan Lopa terhenti di tengah kesibukan mengusut berbagai perkara besar tersebut. Ia mendadak jatuh sakit saat kunjungan kerja ke Arab Saudi pada 2 Juli 2001.
Keesokan harinya, 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa dinyatakan meninggal dunia di Riyadh. Penyebab resmi disebut serangan jantung akibat kelelahan, namun publik menilai kepergian itu penuh misteri.
Menteri Luar Negeri Alwi Shahab bahkan menyoroti kejanggalan diagnosis pembuluh darah menyempit. Sementara Muhaimin Iskandar mengaku, Lopa sempat mengungkap ada tiga orang yang mendesaknya mundur.
Kematian Lopa yang tiba-tiba memunculkan spekulasi di kalangan publik dan media nasional. Namun, terlepas dari misteri itu, semangat keberaniannya tetap menjadi simbol integritas hukum Indonesia.
Ucapan terkenalnya terus hidup, 'Beranilah menjadi benar meskipun sendirian'. Baharuddin Lopa dikenang sebagai teladan terakhir penegak hukum yang teguh melawan arus zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....