Menguak Asal-Usul Halloween, Festival Kuno Celtic ‘Samhain’
- 30 Okt 2025 21:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Halloween identik dengan mengukir labu, trick-or-treating (mengemis permen), dan mengenakan kostum seram. Ternyata, perayaan Halloween memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dari yang diperkirakan.
Acara ini berakar pada Festival Celtic kuno Samhain. Festival ini merupakan sebuah perayaan keagamaan pagan (non-Abrahamik) untuk menyambut panen akhir musim panas.
Mengutip Library of Congress, Samhain menandai transisi ke tahun baru di akhir panen dan awal musim dingin. Orang Celtic percaya bahwa selama festival ini, roh-roh akan berjalan di Bumi.
Alasan penggunaan kostum pun berasal dari Samhain. Untuk menghindari teror roh-roh jahat, orang Celtic menyamarkan diri agar roh-roh tersebut bingung dan meninggalkan mereka.
Warna tradisional Halloween, hitam dan oranye, juga berasal dari Samhain. Hitam melambangkan ‘kematian’ musim panas, sementara oranye melambangkan panen.
Pada abad ke-8, Paus Gregorius III menetapkan 1 November untuk menghormati para santo. Peringatan tersebut dikenal sebagai All Saints Day.
Tak lama kemudian, perayaan ini menggabungkan beberapa tradisi Samhain. Malam sebelum All Saints Day dikenal sebagai All Hallows Eve, yang kemudian menjadi Halloween.
Tradisi mengukir labu sendiri berasal dari Irlandia dan awalnya menggunakan lobak (turnip). Konon tradisi ini didasarkan legenda Stingy Jack, pria yang menjebak Iblis dan membuat perjanjian agar tidak masuk neraka.
Karena surga juga menolaknya, Jack terpaksa berkeliaran di Bumi sebagai hantu abadi. Ia diterangi oleh bongkahan batu bara yang menyala dalam lobak yang dilubangi pemberian Iblis.
Penduduk setempat kemudian mulai mengukir wajah seram pada lobak. Hal ini dilakukan untuk ‘menakut-nakuti’ roh jahat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....