Tradisi Baju Baru Idulfitri dan Ancaman Limbah Fesyen

  • 30 Mar 2025 12:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Surabaya: Menyambut Idulfitri, tradisi membeli baju baru masih menjadi kebiasaan yang melekat di masyarakat Indonesia. Namun, di balik euforia tersebut, muncul kekhawatiran akan meningkatnya limbah fesyen yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Maria Nala Damayanti, dosen Program Textile and Fashion Design (DFT) Petra Christian University (PCU), menyebut bahwa tradisi ini tidaklah salah, tetapi perlu disikapi dengan bijak. “Idulfitri adalah momen penyegaran jiwa dan hati, baju baru menjadi simbolnya,” ujarnya kepada RRI, Sabtu (29/3/2025).

Namun, ia mengingatkan bahwa kebiasaan membeli pakaian baru yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan pakaian yang akhirnya berujung pada limbah fesyen. Limbah ini menjadi masalah serius karena banyak bahan pakaian yang sulit terurai dan sulit didaur ulang.

“Industri fesyen adalah penyumbang limbah terbesar kedua setelah plastik. Banyak bahan murah yang sulit terurai, sehingga membebani lingkungan,” ujarnya menjelaskan.

Sebagai solusi, Maria mengajak masyarakat untuk menerapkan konsep YONO (You Only Need One) saat berbelanja baju Lebaran. Konsep ini menekankan pentingnya memilih pakaian berkualitas daripada kuantitas, sehingga dapat mengurangi limbah fesyen.

“Kita bisa memadukan pakaian lama dengan sedikit kreativitas. Warna senada atau kombinasi baru dapat menciptakan tampilan segar tanpa harus belanja berlebihan,” ujarnya.

Dengan langkah-langkah sederhana ini, masyarakat tetap bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh makna tanpa menambah beban lingkungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....