Festival Alek Mandeh: Perayaan Matrilineal yang Menghidupkan Tradisi

  • 05 Des 2024 01:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Padang: Festival Alek Mandeh menggelar perayaan budaya yang mengangkat sistem matrilineal Minangkabau sebagai fokus utama dengan tema Menggantang Ambang: Matrilineal Minangkabau di Persimpangan Waktu. Bertempat di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, pada 3-5 Desember 2024, festival ini menyoroti warisan budaya yang unik dan terus bertahan di tengah tantangan zaman.

Kepala BPK III Sumatera Barat, Undri, menjelaskan bahwa Festival Alek Mandeh adalah wujud nyata pelestarian tradisi secara berkelanjutan. Ia menerangkan bahwa pelestarian tradisi ini berdasarkan pada sistem matrilineal Minangkabau yang telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2013, dan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional pada 2017.

"Alek Mandeh memberikan ruang bagi semua pihak. Ini untuk memahami akar tradisi ini sebagai sumber inspirasi seni dan budaya Minangkabau,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan maksud dari tema yang diusung dalam pelaksanaan Festival Alek Mandeh tahun 2024 “Menggantang Ambang: Matrilineal Minangkabau di Persimpangan Waktu”. Menurutnya, tema tersebut berupaya menggalang kesadaran bersama untuk melestarikan sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya matrilineal Minangkabau agar tetap relevan di masa kini.

Sementara itu, Kurator Festival Alek Mandeh, Dede Pramayoza, menyoroti pentingnya pendekatan kontemporer dalam mengenalkan budaya tradisional. "Kami mengemas program seperti Klinik Kritik Budaya untuk membangun literasi baru dan memperkenalkan budaya kritik kepada masyarakat Minangkabau, terutama terkait peran perempuan dalam budaya matrilineal," ucap Dede.

Pada Festival Alek Mandeh 2024 untuk pertama kalinya digelar Klinik Kritik Budaya Matrilineal sebagai upaya menumbuhkan literasi baru dan budaya kritik dalam masyarakat Minangkabau masa kini. Pada praktiknya di Festival Alek Mandeh, peserta akan dikurasi dan akan menulis seluruh peristiwa selama Alek Mandeh 2024 berlangsung di bawah bimbingan Peneliti Seni Pertunjukan, Sal Murgiyanto, dan Penelitian Gender dan Budaya Matrilineal, Feriyal Aslam.

Dengan adanya program tersebut, Dewan Pakar Bunda Kanduang Nagari Sijunjung, Yasnidar Wahab, menekankan peran perempuan dalam menjaga kesinambungan adat Minangkabau. "Perempuan Minangkabau adalah simbol kebijaksanaan dan penentu arah keluarga, melalui sistem matrilineal, kami mempertahankan identitas kami sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi harmoni dan gotong royong,” ujar Yasnidar Wahab.

Yasnidar Wahab juga menekankan bahwa festival ini sebagai cara konkret mengajak masyarakat untuk bangga dan aktif menjaga warisan ini demi masa depan budaya Minangkabau. Festival ini tidak hanya memperlihatkan kebanggaan masyarakat Minangkabau terhadap budaya mereka, tetapi juga membuka dialog lintas generasi untuk melestarikan sistem kekerabatan matrilineal sebagai aset budaya dunia.

Seperti tradisi Arak Iriang Bakaua Adat, pentas teater Sandiwara Baru Renteng Langsai, pentas tari Koreaografi Vernakular rantak Nagari Parampuan, screening film layar matrilineal yang menampilkan film dokumenter dan fiksi karya Sienas Sumatera Barat. Yakni film Amak, Gadih Basanai, dan Salisiah Adaik, serta instalasi seni “nostalgia” hasil kolaborasi tiga seniman perempuan, Maharani Mancanagara, Haiza Putti, dan Sisca Aprisia.

Diketahui, Festival Alek Mandeh merupakan satu dari 12 rangkaian kegiatan festival budaya Kenduri Swarnabhumi 2024 yang diharapkan menjadi katalis bagi upaya pelestarian budaya dan lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan nenek moyang untuk generasi mendatang. Kenduri Swarnabhumi sendiri akan digelar di DAS Batanghari, yakni di 10 Kabupaten/Kota se-Provinsi Jambi dan 2 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat dengan mengangkat narasi harmoni penting antara kebudayaan dengan pelestarian lingkungan, khususnya sungai, dan sebaliknya juga tentang pelestarian lingkungan untuk kebudayaan berkelanjutan.

Rangkaian pagelaran festival budaya yang akan diselenggarakan oleh masyarakat setempat ini, menjadi momentum memperkuat semangat kemandirian dalam mengangkat kearifan lokalnya. Setiap festival yang digelar akan berkoordinasi dengan Direktur Festival dan Kurator Lokal serta didukung Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Perfilman Musik dan Media.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....