"Emas Cair" Wajan Dapur Kini Menjangkau Langit Biru

  • 30 Okt 2025 21:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Minyak jelantah, limbah dapur yang selama ini menjadi masalah, kini berubah menjadi "emas cair". Potensi limbah ini secara nasional mencapai lebih dari 1,2 juta kiloliter per tahun.

Pertamina mulai merajutnya menjadi rantai ekonomi sirkular yang dimulai dari wajan penggorengan. Dari minyak jelantah tersebut, limbah-limbah ini diubah menjadi bahan bakar bagi burung-burung besi di angkasa.

(Foto 5, 6, dan 7)

Setiap hari, ribuan wajan seperti ini menyala. Mereka melayani kebiasaan konsumsi nasional dengan setiap orang rata-rata menghabiskan hampir 29 kilogram minyak goreng setiap tahun.

Dari sinilah perjalanan dimulai. Di atas api yang membara dan desis minyak panas, lahir bukan hanya makanan lezat, tetapi juga limbah minyak jelantah. Potensi raksasa ini menunggu untuk diolah.

(Foto 1)

Di SPBU MT Haryono Jakarta, salah satu dari 35 titik UCollect Box, Ibu Antin memindai QR code. Ini adalah gerbang digital yang menghubungkan limbah dapurnya dengan sistem ekonomi sirkular.

Dari 2.848 pengguna yang telah bergabung, setiap liter jelantah kini memiliki nilai.

(Foto 3)

Tetes demi tetes, 'emas cair' dituang. Hingga kini, program ini telah berhasil mengumpulkan total 99.650 liter jelantah. Di SPBU di Dago, Bandung, mesin ini bahkan mampu menampung hingga 2.000 liter per bulan.

(Foto 3)

Senyum merekah saat transaksi berhasil. Dengan harga yang bisa mencapai Rp 6.800 per liter, saldo di aplikasi MyPertamina langsung bertambah.

"Daripada mencemari lingkungan, sekarang malah jadi uang," ujar Ibu Antin, salah satu penyetor aktif. Inilah momen di mana kepedulian bertemu langsung dengan pemberdayaan ekonomi.

(Foto 4)

Di balik layar, inovasi ini adalah hasil kolaborasi. Petugas Pertamina dan mitra teknologinya berdiri di samping UCollect Box, simbol dari ekosistem energi bersih yang sedang dibangun.

Dengan slogan "Di Sini Minyak Jelantah Bisa Jadi Rupiah", mesin ini adalah undangan terbuka bagi seluruh masyarakat. Mereka dapat ikut berpartisipasi dalam transisi energi.

Limbah dapur ini kemudian diolah menjadi bahan bakar berstandar internasional di Kilang Pertamina Cilacap yang siap menerbangkan mimpi. Ini sejalan dengan Peta Jalan Pengembangan Industri SAF Nasional.

Dengan campuran 2,5 persen jelantah, Sustainable Aviation Fuel (SAF) ini mampu mengurangi emisi karbon hingga 84 persen. Penerbangan perdana Pelita Air menggunakan SAF pada 20 Oktober 2025 menjadi pembuktiannya.

Lingkaran ekonomi sirkular pun menjadi utuh. Dari dapur, menjadi cuan, lalu menjadi energi yang membuat langit lebih biru.

Indonesia kini sedang mempersiapkan diri memenuhi target campuran SAF 5 persen pada 2035.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....