Persamaan dan Perbedaan, Tabut Bengkulu dan Tabuik Pariaman

  • 13 Jul 2024 14:08 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Di Indonesia terdapat dua daerah yang menggelar perayaan Tabut. Yakni Bengkulu dan Pariaman, Sumatera Barat.

Meski beberapa ritual berbeda, namun inti upacara ini adalah mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali ketika ditawan oleh Yazid bin Muawiyah di Karbala Irak. Jika di Pariaman disebut Tabuik di Bengkulu disebut Tabut, keduanya bermakna sama, yakni peti mati.

Tradisi ini sendiri digelar mulai 1 Muharram hingga 10 Muharram secara kolosal. Diawali dengan prosesi pengambilan tanah yang menjadi simbol asal Jasad manusia.

Dikutip dari kemendikbud.go.id, di Pariaman aktivitas pengambilan tanah dilakukan pada petang hari tanggal 1 muharam. Dilakukan dengan suatu arak-arakan yang dimeriahkan dengan gendang tasa.

Mengambil tanah dilaksanakan oleh dua kelompok tabuik yaitu kelompok “tabuik pasar” dan “tabuik subarang”. Masing-masing kelompok mengambil tanah pada tempat serupa anak sungai yang berbeda dan berlawanan arah, Tabuik pasar di desa Pauh, sedangkan tabuik subarang di Alai-Gelombang yang berjarak ±600 meter dari daraga (rumah tabuik).

Sedangkan di Bengkulu mengambil tanah dilakukan oleh kelompok "tabut Imam" dan " Tabut bangsal". Lokasi pengambilan tanah adalah Pantai Nala dan Tapak Paderi.

Di Bengkulu terdapat ritual duduk penja, atau mencuci simbol potongan tubuh Husein atau jari-jari. Istilah duduk penja dalam tradisi tabut adalah simbol mengajak umat agar selalu menyucikan diri.

Sementara di Pariaman dilanjutkan dengan prosesi menebang batang pisang pada tanggal 5 muharram. Menebang batang pisang adalah cerminan dari ketajaman pedang yang digunakan dalam perang.

Selanjutnya di Bengkulu terdapat prosesi Menjara. Istilah menjara dalam tradisi tabut adalah perjalanan panjang dimalam hari dengan arak-arakan dol, bendera,dan panji-panji kebesaran yang diibaratkan ketika akan terjadi perang kerbala.

Sementara di Pariaman dilanjutkan dengan Prosesi maatam. Keluarga tabuik beriringan mengelilingi daraga sambil membawa peralatan ritual tabuik jari-jari,sorban, dan pedang.

Di Bengkulu terdapat aktivitas Meradai, yakni pengumungan kepada masyarakat jika akan terjadi perang. Masyarakat bisa menyumbang uang atau barang pada saat itu.

Selanjutnya prosesi arak jari-jari dan arak seroban digelar baik di Bengkulu juga di Pariaman. Arak seroban dan arak jari-jari adalah simbolasi ditemukan bagian tubuh Husein paska perang.

Di Bengkulu terdapat ritual Gam atau hari berkabung. Saat itu tak ada bunyi-bunyian dol yang dilakukan oleh keluarga Tabut.

Selanjutnya tabut naik pangkek, tabut besanding dan tabut tebuang merupakan prosesi yang dilakukan baik di Pariaman dna Bengkulu. Di Pariaman tabut besanding disebut pesta hoyak sementara tabut tebuang disebut hoyak tabuik.

Lokasi pembuangan Tabut di Bengkulu adalah tempat yang diyakini sebagai makan Imam Senggolo, pembawa tradisi Tabut di Bengkulu. Sementara di Pariaman dibuang di pantai Gondoriah.

Jika di Bengkulu jumlah Bangunan Tabut sebanyak 17 buah, terdiri dari 8 tabut bangsal dan 7 tabut imam. Maka di Pariaman hanya ada 2 bangunan Tabuik, yakni pasar dan subarang

Jika di Bengkulu penerua tradisi Tabut adalah Kerukunan Keluarga Tabut, maka di Pariaman disebut Keluarga Penghuni Rumah Tabuik. Kegiatan ini sama-sama menjadi festival besar dikedua tempat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....