Kisah Rahasia di Balik Pemakaman Bab Aghmat yang Bikin Merinding
- 09 Jun 2026 07:22 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Di balik kokohnya pisé (dinding tanah liat kemerahan) yang membentang sepanjang 19 kilometer mengelilingi Medina kuno Marrakesh, terdapat sebuah kawasan yang menjadi saksi bisu perjalanan spiritual, sosial, dan sejarah Maroko selama hampir seribu tahun. Berada tepat di luar gerbang tenggara kota, Pemakaman Bab Aghmat (Bab Aghmat Cemetery) berdiri sebagai salah satu kompleks pemakaman Muslim tertua dan paling signifikan di Kota Merah ini.
Nama "Bab Aghmat" sendiri diambil dari nama Aghmat, kota kuno benteng pertahanan Dinasti Almoravid yang sempat menjadi ibu kota wilayah Souss sebelum Marrakesh didirikan pada abad ke-11. Gerbang ini dulunya merupakan jalur perdagangan utama yang menghubungkan Marrakesh dengan wilayah gurun Sahara di selatan serta rute militer strategis. Namun, di luar fungsi pertahanannya, area di luar gerbang ini berevolusi menjadi tempat peristirahatan terakhir yang sakral.
Benteng Spiritualitas dan Tradisi Tujuh Wali
Pemakaman Bab Aghmat bukan sekadar hamparan makam bercat putih (whitewashed tombs), melainkan sebuah pusat ziarah penting. Dalam tradisi Islam di Afrika Utara, terdapat kebiasaan memakamkan tokoh-tokoh suci, ulama, dan pejabat negara di dekat gerbang kota. Hal ini didasari oleh keyakinan lokal bahwa keberadaan makam orang-orang saleh tersebut memberikan "barakah" (berkah) dan perlindungan spiritual bagi kota dari ancaman luar.
Salah satu landmark spiritual paling menonjol di kompleks ini adalah Zawiya (kompleks makam dan pusat sufi) Sidi Yusuf ibn Ali Sanhaji (wafat 1196 M). Beliau adalah seorang ulama dan sufi abad ke-12 yang hidup terisolasi di gua luar kota karena menderita penyakit kusta, namun dikenal karena ketabahan dan kesalehannya yang luar biasa.
Sidi Yusuf merupakan tokoh pertama yang diziarahi dalam ritual tahunan Ziyara"Sab'atu Rijal" (Tujuh Wali Marrakesh). Tradisi ziarah tujuh hari ini diinisiasi oleh Sultan Alawi, Moulay Ismail, pada akhir abad ke-17 demi memperkuat legitimasi politik serta memperkokoh reputasi spiritual Marrakesh. Hingga hari ini, para peziarah masih mendatangi Zawiya Sidi Yusuf setiap hari Selasa untuk berdoa dan mencari ketenangan spiritual. Selain Sidi Yusuf, tokoh besar lain seperti ahli matematika dan astronom abad ke-14, Ibn al-Banna (wafat 1321 M), juga dimakamkan di kawasan historis ini.
Mozaik Keberagaman di Batas Kota
Hal yang membuat kawasan Bab Aghmat unik secara historis adalah lanskap sosialnya yang mencerminkan koeksistensi antaragama di masa lalu. Kompleks Pemakaman Muslim Bab Aghmat berdampingan langsung di sisi barat dengan kompleks pemakaman Yahudi dari kawasan Mellah (pemukiman Yahudi kuno Marrakesh).
Pada masa-masa krisis masa lalu, seperti saat terjadinya wabah penyakit atau epidemi di Marrakesh, area pemakaman ini menjadi sangat sibuk untuk mengakomodasi prosesi pemakaman massal yang cepat bagi kedua komunitas tersebut. Di sisi Yahudi, makam tokoh-tokoh penting seperti Rabi Hanania Cohen juga berada di kawasan ini, mempertegas status Bab Aghmat sebagai ruang memori kolektif lintas iman.
Bab Aghmat di Era Modern
Hari ini, area di sekitar Bab Aghmat telah bertransformasi menjadi titik temu yang kontras namun dinamis. Di satu sisi, pemakaman kuno ini menawarkan keheningan yang magis dan sakral. Di sisi lain, tepat di luar gerbang, hiruk-pikuk modernitas Marrakesh bergema melalui pasar lokal yang menjajakan kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau, kontras dengan pasar wisata (souk) yang mahal di dalam pusat Medina.
Bagi para sejarawan dan pelancong, Pemakaman Bab Aghmat bukan sekadar situs arkeologi statis, melainkan sebuah monumen hidup yang terus menceritakan bagaimana spiritualitas, tradisi sufi, dan toleransi budaya membentuk fondasi peradaban Marrakesh dari abad ke-11 hingga era modern.
(sumber: Allain, Charles & Deverdun, Gaston (1957). "Les portes anciennes de Marrakech" | Kisah "Seven Saints of Marrakesh" (Sab'atu Rijal) | Gottreich, Emily (2007). The Mellah of Marrakesh: Jewish and Muslim Space in Morocco's Red City. Indiana University Press, hal. 116–118)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....