Kisah Ojek Gunung Bukit Kaba, Solusi Pendakian hingga Puncak

  • 22 Des 2025 07:47 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Rejang Lebong: Di balik keindahan alam dan kawah aktif Gunung Bukit Kaba, tersimpan kisah para pejuang nafkah yang setiap hari setia mengantar wisatawan menuju puncak. Salah satunya adalah Andrian, warga Desa Sumber Urip, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, yang kini menekuni profesi sebagai ojek gunung Bukit Kaba.

Andrian mengaku baru sekitar satu tahun menjalani profesi tersebut. Meski tergolong baru dibandingkan rekan-rekannya yang sudah lebih lama menarik ojek gunung, ia tetap konsisten melayani wisatawan yang ingin mencapai puncak tanpa harus berjalan kaki berjam-jam.

“Kalau ojek ini baru setahun,” ujar Andrian di puncak Bukit Kaba, Minggu (21/12).

Dalam sehari, jumlah penumpang yang diantar Andrian bervariasi. Pada hari biasa, penumpang tidak terlalu ramai. Ia hanya melayani sekitar tiga orang per hari. Namun saat akhir pekan atau hari libur, jumlah penumpang bisa meningkat signifikan.

“Kalau hari libur bisa sampai enam sampai delapan orang sehari,” katanya.

Jalur ojek gunung Bukit Kaba sendiri merupakan jalur lama yang sebagian sudah beraspal, meski kondisinya di beberapa titik kurang baik. Menurut Andrian, jalur tersebut relatif aman, meski pernah terjadi longsor di bagian atas jalur.

“Kalau longsor itu biasanya di atas,” ungkapnya singkat.

Menggunakan ojek gunung, waktu tempuh dari base camp hingga puncak Bukit Kaba hanya sekitar 30 menit. Jauh lebih singkat dibandingkan jalur pendakian kaki yang bisa memakan waktu lebih dari tiga jam.

Untuk tarif, Andrian menjelaskan biaya ojek sekali jalan atau antar maupun jemput sebesar Rp60.000. Sementara tarif pulang-pergi dipatok Rp120.000. Khusus perjalanan malam hingga subuh, tarif sedikit lebih tinggi.

“Kalau malam sampai subuh itu beda, sekitar Rp80.000 sampai Rp100.000 untuk sekali antar,” jelasnya.

Keberadaan ojek gunung Bukit Kaba menjadi solusi bagi wisatawan yang memiliki keterbatasan fisik, waktu, atau ingin menikmati perjalanan tanpa kelelahan berlebih. Selain lebih praktis, para pengemudi ojek gunung dikenal memahami medan dan mengutamakan keselamatan penumpang.

“Buat yang fisiknya nggak kuat, jangan dipaksain. Naik ojek gunung Bukit Kaba aja, lebih aman dan nggak menguras energi,” ujar Dian, salah seorang wisatawan yang ditemui di puncak.

Keberadaan ojek gunung ini turut mendapat perhatian Anggota DPD RI apt Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., yang hadir langsung meninjau infrastruktur di kawasan Resort Bukit Kaba. Menurutnya, ojek gunung merupakan bagian penting dari ekosistem pariwisata dan ekonomi masyarakat sekitar.

“Ojek gunung ini bukan hanya sarana transportasi wisata, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat lokal. Karena itu, infrastruktur pendukung seperti jalur, keamanan, dan fasilitas di Resort Bukit Kaba perlu terus ditingkatkan agar wisatawan merasa aman dan nyaman,” ujar Senator Destita.

Ia menambahkan, pengembangan pariwisata Bukit Kaba harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat setempat, termasuk para ojek gunung, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga sekitar tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kelestarian alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....