Memaknai Proses Ritual Tabut Bengkulu

  • 30 Jun 2025 10:38 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu : Setiap awal bulan Muharram, masyarakat Bengkulu kembali menyambut salah satu tradisi sakral yang telah menjadi warisan budaya tak benda Indonesia, yaitu Ritual Tabut.

Tradisi yang diwariskan oleh keturunan Imam Senggolo ini merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan pengorbanan cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husein bin Ali, dalam tragedi Karbala.

Rangkaian ritual Tabut dilaksanakan secara bertahap selama 10 hari, mulai 1 hingga 10 Muharram, dan terbagi dalam beberapa prosesi penting yang penuh makna spiritual dan kultural.

1. Mengambil Tanah (1 Muharram)

Prosesi awal ini dilakukan di tempat bernama Keramat Empat, diiringi doa-doa dan iringan alat musik dhol. Tanah yang diambil melambangkan simbol kesedihan atas gugurnya Imam Husein.

2. Duduk Penja (5 Muharram)

Penja adalah simbol tangan Imam Husein. Dalam ritual ini, para peserta membersihkan dan menyiapkan penja, kemudian duduk bersama sambil membaca doa dan kisah Karbala.

3. Menjulang dan Arak Penja (7 Muharram)

Penja yang telah dihias diarak keliling kota. Ribuan warga turut menyaksikan sambil mengiringi iringan tabuhan dhol yang menggema, menambah nuansa haru dan kebersamaan.

4. Tabut Naik Puncak (9 Muharram)

Pada malam ini, replika Tabut mulai dipersiapkan dan disatukan. Prosesi dilakukan dengan penuh kehikmatan. Ornamen-ornamen khas Tabut yang tinggi dan megah dipasang dengan simbolis sebagai perwujudan semangat perjuangan.

5. Tabut Tebuang (10 Muharram)

Berikut jadwal lengkap ritual Tabut yang dikeluarkan oleh Perkumpulan KKT Bencoolen yang diketuai Ir. Achmad Syiafril, Sy.

Puncak dari seluruh rangkaian ritual. Tabut-tabut besar diarak menuju titik akhir—biasanya ke pantai atau sungai—untuk kemudian "dibuang" ke laut sebagai simbol melepas duka dan menyucikan diri dari kesedihan.

Seluruh prosesi Tabut tidak hanya bernilai religius, tapi juga sarat nilai budaya, solidaritas, dan pelestarian sejarah. Anak-anak hingga orang tua turut serta dalam setiap tahap, menunjukkan betapa dalamnya keterikatan masyarakat terhadap tradisi ini.

Pemerintah dan para pewaris tradisi Tabut terus berkomitmen menjaga kesakralan acara ini, dengan memastikan bahwa nilai spiritual tetap terjaga, meski dikemas dalam format yang bisa dinikmati masyarakat luas dan wisatawan.

Ritual Tabut bukan sekadar perayaan, melainkan bentuk perenungan, penghormatan, dan pelajaran akan pentingnya keteguhan, keikhlasan, serta semangat perjuangan. Bengkulu melalui Tabut mengajarkan bahwa mengenang masa lalu bisa menjadi sumber nilai hidup yang abadi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....