Refleksi Hari Anak Nasional 2025

  • 23 Jul 2025 14:28 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, mengatakan dalam momen peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025, pertanyaan kritis kembali muncul: apakah negara masih mampu melindungi generasi penerusnya?. Dalam suasana digital yang semakin kompleks, ancaman terhadap anak-anak tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga merayap dalam algoritma yang tersembunyi dan sulit dilacak.

Dari Siaran Pers yang dibagikan melalui pesan Whatsapp pada Selasa (23/7/2025), Jasra mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki perangkat regulasi perlindungan anak yang tergolong lengkap. Namun, implementasinya kerap tersandung konsistensi penegakan hukum dan lemahnya pengarusutamaan perlindungan anak dalam perencanaan daerah serta alokasi anggaran jangka panjang.

Jasra menjelaskan, dari data Pokja Pengaduan KPAI menunjukkan bahwa persoalan anak terjadi sejak tahap awal kehidupannya, yaitu dalam keluarga dan pola pengasuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa negara seolah belum mampu bergerak lebih jauh dari persoalan dasar perlindungan anak di tingkat rumah tangga.

Jasra menuturkan bahwa berbagai intervensi telah dilakukan melalui berbagai-program, namun belum mampu mengubah akar masalah secara menyeluruh. Harapan besar disematkan pada inisiatif seperti pemeriksaan kejiwaan anak, sekolah rakyat, serta relawan pengajar untuk menjangkau wilayah tertinggal.

Sayangnya, dominasi dunia digital menjadikan anak-anak terjebak dalam ruang semu yang jauh dari realitas sosial dan fisik yang seharusnya membentuk kepribadian mereka. Upaya untuk menormalkan kembali kehidupan anak melalui permainan tradisional atau aktivitas fisik seperti senam bersama di lingkungan RT/RW masih seperti mimpi yang belum terwujud nyata.

Jasra mencontohkan inspirasi dari negara lain yang berhasil membebaskan anak-anak dari kecanduan digital, seperti Cina, telah menyentuh hati banyak orang tua di Indonesia. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah negara kita memiliki kemauan dan keberanian yang sama untuk “memaksa” anak-anak keluar dari peraduan digital demi masa depan yang lebih sehat?

Jasra menambahkan, pesimisme masyarakat kian meningkat ketika media menampilkan berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi terhadap anak, termasuk sindikat perdagangan bayi. Di tengah selebrasi Hari Anak, muncul kekhawatiran bahwa perayaan hanya menjadi simbol seremonial yang tak menyentuh kebutuhan riil anak-anak.

Namun di tengah keprihatinan tersebut, masih banyak anak Indonesia yang menunjukkan prestasi luar biasa, membangkitkan rasa optimisme dan keyakinan akan potensi mereka. Negara harus mampu menciptakan lingkungan kondusif agar setiap anak merasa dimampukan, dilindungi, dan diberi ruang untuk tumbuh sesuai potensinya.

Jasra menutup, momentum HAN 2025 dengan tema “Semua Anak Indonesia Bersaudara”, membutuhkan prasyarat semua orang dewasa bersaudara untuk membangkitkan kesadaran akan alam, lingkungan dan kemanusiaan, sehingga anak-anak dapat bertumbuh dalam taman yang asri, dan tumbuh berwarna-warni sesuai potensinya. Termasuk menyadari bahwa Hari Anak perlu dirayakan, agar mereka tahu bahwa negara ini memikirkan generasinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....