Menghidupkan Kembali Batik Diwo, Kain Para Raja Rejang

  • 24 Jul 2024 13:04 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Kepahiang: Jika Bengkulu secara umum memiliki batik besurek, maka Kabupaten Kepahiang memiliki batik diwo. Batik ini sudah dikenal di kabupaten Kepahiang dan menjadi seragam dinas pemda Kepahiang.

Dahulu batik diwo hanya digunakan oleh para raja dan bangsawan saja. Sehingga batik ini terkenal dengan nama sebutan batik 'Raja Redjang'. Kala itu suku rejang adalah suku yang mendiami kabupaten Kepahiang bahkan tetap menjadi mayoritas hingga saat ini.

Sayangnya batik diwo perlahan terlupakan. Banyak faktor penyebab terjadinya hal tersebut.

Seperti mengeluarkan harta karun terpendam, pada tahun 2008 batik diwo mulai dibuat kembali. Para pengrajin mulai menghidupkan warisan leluhur yang semula digunakan oleh para raja, menjadi kain yang dapat digunakan oleh masyarakat.

Pelestari kain Diwo yang juga penasehat Yayasan Az-zahra Helmiyesi mengatakan kala itu bupati kabupaten Kepahiang mengembalikan batik diwo menjadi muatan lokal di sekolah. Tak cukup hanya disitu, pemda juga menjadikan batik diwo sebagai seragam wajib di lingkungan pemerintah daerah dan seragam sekolah.

Dewan kerajinan nasional daerah Kabupaten Kepahiang juga ambil bagian dalam upaya menghidupkan kembali batik kebanggaan Kepahiang ini. Sayangnya upaya itu putus ditegah jalan seiring pergantian kepemimpinan.

Pada tahun 2016, beberapa orang pengrajin berkumpul dan bersepakat untuk kembali merintis batik diwo agar menjadi batik kebanggaan masyarakat Kepahiang. Mereka adalah Nurhayati, Erna Wati dan Reka Melyana dari UMKM Sumber Hayati bersama dengan Yayasan Az zahra Kepahiang yang saat itu dipimin oleh Helmiyesi.

Berkolaborasi, mereka memulai pelatihan membatik bagi perempuan-perempuan desa, terutama perempuan kepala keluarga berekonomi rendah. Berkat kolaborasi tersebut berdirilah Rumah Kreatif Batik Diwo di Desa Sidorejo Kecamatan Kabawetan, yang dipimpin oleh Sri Wanti.

Sebagai komunitas yang menaungi para pengrajin batik diwo maka Yayasan Az zahra Kepahiang juga membentuk UMKM Umeak Kain Diwo di Kelurahan Padang Lekat Kecamatan Kepahiang. Hal ini menjadikan semangat untuk kembali menghidupkan batik para raja kian menyala sehingga UMKM batik juga terus bertumbuh.

Helmiyesi mengatakan setidaknya terdapat lima motif utama kain diwo. Kelima motif tersebut memiliki makna dan waktu penggunaannya masing-masing.

Pertama motif Selempang Emas. Motif ini bermakna keagungan, motif yang biasanya digunakan para Raja atau penguasa di Kepahiang.

Kedua adalah motif Stabik, motif ini merupakan bentuk salam penghormatan. Ini adalah budaya masyarakat suku rejang yang selalu meminta izin setiap melakukan kegiatan sebagai bentuk atau simbol penghormatan.

Bentuk stabik seperti cakra berjumlah 7 putaran yang berarti pula jumlah atau angka tertinggi bagi sang pencipta. Stabik juga merupakan bahasa yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat pada pihak lain.

Motif ketiga adalah Kembang Lima. Artinya empat pokok arah mata angin yakni utara, selatan, barat dan timur menjadi satu dalam kebhinekaan seperti kelopak bunga kelima yang jika digabungkan bermakna persatuan dan kesatuan.

Keempat adalah motif Aksara Kaganga, merupakan huruf lokal daerah yang menjadi simbol kecerdasan dan berpendidikan. Aksara kaganga atau nama aslinya aksara ulu adalah bentuk puncak peradaban masyarakat masa lampau. Sejak lama menjadi simbol jika masyarakat suku Rejang sudah bisa menulis.

Kelima adalah Pucuk Rebung. Ini adalah motif doa bagi Kabupaten Kepahiang yang merupakan Kabupaten Pemekaran dari Rejang Lebong.

Pucuk Rebung artinya tumbuh, harapannya Kabupaten ini terus berbenah dan bertumbuh menjadi kabupaten yang kuat mandiri dan sejahtera, sebagaimana visi dan mis pemerintah daerah saat ini. Rebung juga menjadi makanan khas dari suku Rejang di Kepahiang.

Bahkan untuk melakukan pengembangan motif, Yayasan Az-zahra melakukan pelatihan penulisan aksara kaganga kain diwo. Hal itu kata Helmiyesi merupakan upaya pengembangan motif batik agar makin beragam.

Selain itu agar pembatik juga mengerti motif yang ia buat dalam tulisan kaganga. Sehingga bisa menulis dan menggambarkan motif dengan kata-kata yang bermakna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....