Benarkah Daging Kambing Sebabkan Darah Tinggi dan Kolesterol?
- 21 Jun 2024 13:23 WIB
- Bengkulu
KBRN, Bengkulu: Meski lebaran Idul Adha telah usia, namun biasanya masyarakat masih menyimpan daging hewan kurban karena tidak langsung diolah usai pembagian. Sebagian bahkan masih memiliki banyak daging kurban di kulkas, karena mendapatkan jatah kupon daging kurban lebih dari satu.
Salah satu keyakinan masyarakat yang kian populer adalah daging kambing yang menyebabkan darang tinggi dan kolesterol. Sehingga sebagian orang menghindari mengkonsumsi daging kambing.
Dalam masakan tradisional, daging kambing sering kali dijadikan bahan utama untuk hidangan yang beragam, mulai dari gulai, sate, hingga tongseng. Kelezatan daging kambing membuatnya menjadi pilihan favorit di antara para penggemar kuliner yang menyukai rasa daging yang gurih dan khas.
Reputasi negatif daging kambing membuatnya selalu dikaitkan dengan penyebab sejumlah penyakit. Namun bagaimana fakta sesungguhnya terkait daging kambing sebenarnya?
Dikutip dari yankes.kemenkes.go.id, daging setidaknya dibagi menjadi dua kategori. Yaitu daging merah dan daging olahan.
Daging merah adalah semua jenis daging berotot dari mamalia termasuk daging sapi dan kambing. Sedangkan daging olahan adalah daging yang telah diolah melalui pengasinan, pengawetan, fermentasi, diasap, atau proses lain untuk meningkatkan rasa atau keawetannya.
Sehingga perbedaan besar antara daging merah dan daging olahan yaitu kandungan garam (natrium) dan nitritnya akan lebih banyak pada daging olahan dibandingkan daging merah.
Berdasarkan literatur yang ada mengungkapkan mengkonsumsi daging olahan memiliki risiko lebih besar menyebabkan timbul tekanan darah tinggi (hipertensi) dibandingkan daging merah.
Pada kasus daging olahan ini dikarenakan tinggi tingkat garam pada daging olahan menyebabkan tinggi juga kemungkinan seseorang menjadi hipertensi. Sehingga sebenarnya penyebab darah tinggi atau tidak bukan pada daging kambingnya tetapi bagaimana cara memproses daging kambing tersebut.
Pada proses pengolahannya, seringkali terdapat kebiasaan untuk menambahkan banyak garam pada daging kambing, ditambah dengan sejumlah bumbu instan siap saji yangbjuga sudah banyak mengandung garam. Hal ini biasanya dilakukan untuk memberikan rasa yang lebih gurih pada daging kambing, dan juga mengurangi bau amis pada daging kambing.
Namun, penambahan garam dalam jumlah yang terlalu banyak pada daging kambing bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan. Sebaiknya, penggunaan garam dan bumbu kemasan sebaiknya dibatasi dan disesuaikan dengan selera masing-masing.
Penggunaan bumbu-bumbu lain seperti rempah-rempah atau bawang putih justru lebih disarankan. Selain lebih sehat juga dapat memberikan rasa yang lebih enak pada daging kambing tanpa harus menambahkan terlalu banyak garam.
Benarkah daging kambing meyebabkan kolesterol? Sejumlah literatur kesehatan justru memaparkan daging merah tanpa lemak atau lean meat tidak meningkatkan kolesterol jahat dalam darah. Sedangkan pada daging berlemak, daging olahan, minyak, makanan cepat saji merupakan sumber lemak jahat atau lemak jenuh yang dapat menyebabkan peningkatan kolesterol.
Sehingga sebaiknya mengkonsumsi daging kambing yang tidak berlemak. Bukan justru mengkonsumsi lemak dan jeroan seperti kebiasaan masyarakat.
Lemak pada sapi bahkan memiliki resiko peningkatan kadar kolesterol jahat pada darah. Sehingga jenis daging yang sehat adalah daging merah tanpa lemak dan jeroan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....