Densus 88 Ajak Masyarakat Bengkulu Perkuat Wasathiyah dan Tangkal Radikalisme
- 06 Okt 2026 12:13 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengajak seluruh elemen masyarakat di Provinsi Bengkulu memperkuat sikap wasathiyah atau moderasi beragama untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme dan ekstremisme. Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan Transformasi Ideologi Jalan Menuju Wasathiyah bertema “Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” di Hotel Mercure Bengkulu, Selasa 6 Oktober 2026.
Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Densus 88 Antiteror Polri Wilayah Bengkulu, Kombes Pol I Wayan Bayuna, S.I.K., M.Si., mengatakan wasathiyah menjadi ruang untuk membangun dialog terbuka di tengah masyarakat. Menurutnya, dialog perlu dilakukan dengan sikap saling menghargai tanpa menyakiti pihak lain.
“Dengan adanya program wasathiyah, kita bisa berdialog dan berdiskusi untuk menyampaikan apa yang ada di hati kita tanpa menyakiti. Mari kita mewujudkan Bengkulu yang beragama, damai, menjunjung tinggi nilai Pancasila, dan menjaga keutuhan NKRI,” ujar I Wayan.
Menurut I Wayan, penguatan moderasi dan dialog menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap paham yang bertentangan dengan Pancasila dan keutuhan NKRI. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat agar pencegahan dapat dilakukan secara bersama.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar, mengatakan seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam mencegah berkembangnya radikalisme dan ekstremisme. Ia menyebut Bengkulu selama ini menjunjung nilai kebangsaan, keberagaman, dan toleransi, namun potensi penyebaran paham radikal tetap perlu diwaspadai.
Khairil menegaskan pencegahan radikalisme tidak dapat hanya mengandalkan aparat keamanan seperti TNI, Polri, maupun Densus 88. Pemerintah daerah, tokoh agama, ulama, akademisi, dan masyarakat harus bersinergi membangun ketahanan ideologi di Provinsi Bengkulu.
“Penanganan ancaman radikalisme tidak bisa hanya dibebankan kepada TNI, Polri, atau Densus 88 semata. Ini adalah tugas kolektif kita bersama,” ujar Khairil.
Ia juga menjelaskan bahwa wasathiyah bukan berarti melakukan kompromi terhadap keyakinan. Sikap moderat menekankan keseimbangan, kedamaian, saling menghargai, serta menjauhkan diri dari pemikiran dan tindakan ekstrem.
Melalui kegiatan tersebut, Densus 88 bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu mendorong penguatan pemahaman masyarakat mengenai moderasi beragama, toleransi, dan nilai-nilai Pancasila. Penguatan tersebut diharapkan dapat menjaga persatuan serta mencegah tumbuhnya paham radikalisme dan ekstremisme di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....