Pokdakan Air Putih Jaya Olah Lele Menjadi Produk Asap Bernilai Tambah
- 05 Okt 2026 11:19 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Rejang Lebong - Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Air Putih Jaya di Kelurahan Air Putih Baru, Kecamatan Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong, mengolah lele menjadi ikan asap untuk mengatasi penurunan harga saat panen melimpah. Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan tim pengabdian dari Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong (AKREL) dengan menerapkan teknologi asap cair.
Pokdakan Air Putih Jaya beranggotakan sekitar 11 orang yang membudidayakan lele dan nila di lahan seluas sekitar 1.820 meter persegi. Lahan tersebut terdiri atas dua kolam induk, empat bak pendederan, dan 10 kolam pembesaran dengan lele sebagai sumber pendapatan utama.
Dalam satu siklus panen, satu kolam berukuran 4 × 2 meter dapat menghasilkan sekitar 150 kilogram lele. Namun, sekitar 30 kilogram di antaranya rata-rata tidak terserap optimal sebagai ikan segar, terutama ketika harga di pasar mengalami penurunan.
Kondisi tersebut mendorong kelompok mencari alternatif pengolahan agar ikan hasil panen tetap memiliki nilai ekonomi. Sebelumnya, lele diolah menjadi ikan asap menggunakan metode tradisional dengan membakar langsung tempurung atau serabut kelapa.
Metode pengasapan tradisional menghasilkan warna yang tidak seragam, aroma dan rasa yang tidak konsisten, serta daya simpan yang relatif pendek. Pembakaran langsung juga menghasilkan asap yang mencemari udara dan berpotensi meninggalkan senyawa tar apabila proses pembakaran tidak sempurna.
Selain persoalan pengasapan, kelompok menghadapi tingginya biaya pakan karena masih bergantung pada pakan pabrikan. Pencatatan biaya produksi dan keuntungan juga belum tertib, sementara pemasaran produk masih terbatas di lingkungan lokal dengan kemasan sederhana.
Tim pengabdian AKREL kemudian memperkenalkan teknologi asap cair sebagai salah satu solusi pengolahan lele. Asap cair diperoleh melalui kondensasi uap hasil pembakaran bahan berkarbon tinggi, seperti tempurung kelapa, dan mengandung senyawa yang memberikan karakter rasa, warna, serta aroma asap.
Dengan menggunakan asap cair tingkat pangan (food grade), ikan tidak perlu dibakar secara langsung. Ikan cukup direndam dalam larutan asap cair, kemudian dikeringkan menggunakan oven pengasap sehingga proses pengolahan lebih mudah dikontrol dan hasilnya lebih seragam.
Kegiatan pendampingan dirancang mengikuti alur usaha kelompok dari hulu hingga hilir dengan komposisi 30 persen teori dan 70 persen praktik. Materi yang diberikan meliputi pembuatan pakan mandiri, pengolahan lele dengan asap cair, serta manajemen dan pemasaran produk.
Dalam pelatihan pakan mandiri, anggota kelompok belajar prinsip dasar nutrisi ikan dan meramu pakan dari bahan lokal. Bahan yang digunakan antara lain bungkil inti sawit, tepung jagung, dedak, tepung indigofera, dan limbah ikan.
Pada pelatihan pengolahan, anggota mempraktikkan perendaman ikan dalam asap cair hingga proses pengeringan menggunakan oven berkapasitas 30 kilogram per siklus. Mereka juga mendapatkan pendampingan mengenai pengemasan produk sesuai ketentuan label pangan.
Sementara itu, pelatihan manajemen dan pemasaran mencakup pencatatan buku kas, penghitungan harga pokok produksi, penetapan harga jual, perbaikan kemasan, dan pemasaran melalui media sosial. Setiap sesi didampingi mahasiswa yang menyiapkan modul, mengukur pemahaman peserta melalui pretest dan posttest, serta mendokumentasikan kegiatan.
Hasil sementara menunjukkan peningkatan pemahaman anggota setelah mengikuti rangkaian pelatihan. Pemahaman pakan mandiri dan budidaya meningkat dari sekitar 35 persen menjadi 78 persen, pengolahan lele asap cair dari 34 persen menjadi 80 persen, serta manajemen dan pemasaran dari 31 persen menjadi 80 persen.
Pada materi formulasi pakan, pemahaman peserta meningkat dari 28 persen menjadi 78 persen. Sementara pemahaman penggunaan asap cair meningkat dari 30 persen menjadi 78 persen dan pemahaman mengenai harga pokok produksi naik dari 25 persen menjadi 79 persen.
Pelatihan juga mulai memberikan perubahan pada produk yang dihasilkan kelompok. Lele asap memiliki warna lebih seragam, aroma dan rasa yang lebih diterima peserta, serta kemasan yang lebih rapi dan layak jual.
Produk tersebut kemudian diberi merek Lele Asap Pak Win dengan pilihan kemasan 100 gram dan 250 gram. Sebagian anggota kelompok juga mulai melakukan pencatatan transaksi harian secara rutin untuk mendukung pengelolaan usaha.
Tim pengabdian menyebut penerapan pakan mandiri untuk seluruh siklus budidaya masih membutuhkan pendampingan agar kualitas pakan tetap konsisten. Produksi rutin lele asap dengan teknologi asap cair dan pemasaran digital juga masih berada pada tahap awal.
Target kenaikan pendapatan kelompok sekitar 30 hingga 40 persen belum dapat dipastikan karena masih membutuhkan waktu pengamatan setelah program pendampingan berjalan. Angka peningkatan yang diperoleh saat ini masih mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta, bukan peningkatan pendapatan.
Pengembangan lele asap menjadi produk bernilai tambah dinilai menjadi salah satu pilihan bagi Pokdakan Air Putih Jaya ketika harga ikan segar turun. Keberlanjutan usaha diharapkan dapat diperkuat melalui dukungan kelurahan dan penyuluh perikanan setempat setelah program pendampingan berakhir.
Kegiatan tersebut didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2026. Pendanaan diberikan melalui Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat berdasarkan kontrak Nomor 085/C3/DT.05.00/PM/2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....