Danlanal: Rumah Penyu Program Pelindo Jadi Garda Konservasi Pesisir Bengkulu

  • 29 Sep 2026 13:37 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Upaya menjaga kelestarian penyu di pesisir Bengkulu terus mendapat perhatian. Rumah Penyu yang dibangun sebagai tempat konservasi dinilai menjadi langkah penting untuk menyelamatkan populasi penyu sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap ekosistem laut.

Komandan Lanal Bengkulu Letkol Laut (P) Brama Setya Indramawan, S.T. mengatakan, keberadaan Rumah Penyu tidak hanya menjadi tempat penyelamatan dan penetasan telur penyu, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Ia mengapresiasi dedikasi Pak Ju, pengelola konservasi penyu, yang selama ini secara konsisten mengabdikan dirinya untuk menjaga keberlangsungan penyu di Bengkulu.

Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga penyu juga mulai tumbuh. Jika dahulu telur penyu masih banyak dikonsumsi, kini masyarakat yang menemukan telur penyu justru menyerahkannya kepada pengelola konservasi untuk ditetaskan dan nantinya dilepas kembali ke alam.

“Ini luar biasa. Dulu telur penyu dikonsumsi, sekarang masyarakat sudah mulai sadar. Kalau menemukan telur, diserahkan kepada Pak Ju untuk ditetaskan dan dilepaskan kembali ke alam,” ujarnya saat ground breaking Rumah Penyu di Alun Utara Bengkulu Tengah pada Selasa, 29 September 2026.

Danlanal menilai keberadaan Rumah Penyu merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap ekosistem pesisir. Tempat tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi education park atau taman edukasi yang mengenalkan lingkungan laut kepada anak-anak sejak usia dini hingga masyarakat umum.

Selain konservasi penyu, kawasan tersebut nantinya dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai penanaman pohon, budidaya ikan dan berbagai potensi ekosistem pesisir lainnya.

Dia mengemukakan, Bengkulu memiliki modal besar berupa garis pantai dan laut yang luas karena berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Potensi tersebut seharusnya tidak hanya dilihat dari sektor daratan, tetapi juga dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi dan wisata bahari.

Untuk itu Lanal mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memandang laut sebagai wilayah perairan, tetapi sebagai potensi besar yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Laut itu harus kita lihat sebagai lautan emas. Potensinya banyak. Jangan kita sudah diberikan laut yang luas dan panjang, tetapi kita hanya berpikir sawit. Lihat pantai sebagai potensi wisata,” katanya.

Di sisi lain, fenomena perubahan garis pantai di kawasan tersebut juga dinilai menarik untuk menjadi objek penelitian mahasiswa. Dalam kurun sekitar delapan bulan, posisi air laut disebut mengalami perubahan dan garis pantai terlihat semakin menjauh.

Fenomena serupa juga ditemukan di Pulau Baai, ketika satu sisi mengalami abrasi, sementara sisi lainnya mengalami sedimentasi.

Terlebih kondisi tersebut menunjukkan adanya dinamika arus laut yang membawa partikel sedimentasi sehingga menyebabkan perubahan karakter garis pantai di sejumlah lokasi.

“Apakah delapan bulan ini akan berkelanjutan, pantainya semakin menjauh, atau ada masanya ketika musim barat dan musim timur berubah. Ini cukup menarik untuk diteliti mahasiswa,” ucapnya.

Lebih lanjut Danlanal mendorong perguruan tinggi dan mahasiswa untuk menjadikan fenomena alam di pesisir Bengkulu sebagai bahan penelitian. Dimana karakter pesisir Bengkulu memiliki keunikan yang perlu dikaji lebih dalam agar perubahan lingkungan dapat dipahami sekaligus diantisipasi.

“Upaya konservasi penyu dan penelitian terhadap perubahan garis pantai tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi gerakan sesaat, tetapi tumbuh menjadi kesadaran bersama untuk menjaga ekosistem pesisir Bengkulu,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....