STIKES Bhakti Husada Bengkulu dan Mafindo Perkuat Literasi Digital Mahasiswa
- 29 Agt 2026 06:06 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu — STIKES Bhakti Husada Bengkulu dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Bengkulu memperkuat kerja sama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Kerja sama ini diarahkan untuk meningkatkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta ketahanan civitas akademika terhadap penyebaran informasi keliru di ruang digital.
Penandatanganan MoU dilakukan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STIKES Bhakti Husada Bengkulu Tahun 2026. Dalam kegiatan tersebut, Mafindo menjadi mitra edukasi mahasiswa terkait literasi digital, pencegahan hoaks, dan etika penggunaan Artificial Intelligence (AI).
Kegiatan mengangkat tema “Etika Penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa” dan dihadiri jajaran pimpinan STIKES Bhakti Husada Bengkulu. Mereka yakni Wakil Ketua I Veby Fransisca Rozi, SKM, M.Kes, Wakil Ketua II Susi Eryani, MH, dan Wakil Ketua III Miki Kurnia Fitrizah, SKM, MKM.
Dari Mafindo hadir Dewan Pengawas Mafindo Pusat Dr. Gushevinalti, M.Si, Relawan MAFINDO Bengkulu Mika Oktarina dan Rafinita Aditya, serta pemateri kegiatan Iyud Dwi Mursito. Kehadiran Mafindo menjadi bagian dari penguatan edukasi mahasiswa agar lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi digital.
Wakil Ketua I STIKES Bhakti Husada Bengkulu, Veby Fransisca Rozi, mengatakan kerja sama tersebut merupakan upaya memperluas kemitraan strategis, terutama dalam meningkatkan literasi digital dan kecakapan berpikir kritis mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk mengenali serta menyikapi misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian yang beredar di ruang digital.
“Kerja sama ini merupakan wujud nyata komitmen STIKES Bhakti Husada Bengkulu dalam memperluas jejaring kemitraan strategis, khususnya dalam upaya bersama meningkatkan literasi digital, kecakapan berpikir kritis, serta ketahanan masyarakat, termasuk civitas akademika, terhadap arus informasi yang keliru seperti misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian di ruang digital,” ujar Veby.
Veby menilai literasi informasi memiliki kaitan erat dengan bidang kesehatan karena informasi yang keliru dapat memengaruhi keputusan masyarakat. Terlebih, hoaks terkait kesehatan berpotensi berdampak langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
“Isu literasi informasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat itu sendiri, terutama dalam menghadapi maraknya hoaks di bidang kesehatan yang dapat berdampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” kata dia.
| Baca juga: Banjir di Kota Bengkulu Semakin Tinggi |
Ia mengatakan kolaborasi dengan Mafindo juga mendukung pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman dan jejaring Mafindo dalam gerakan anti-hoaks dinilai relevan dengan kebutuhan perguruan tinggi dalam membangun kecakapan digital mahasiswa.
“Kolaborasi dengan Mafindo yang memiliki kapasitas, jejaring, dan pengalaman panjang dalam gerakan anti-hoaks di Indonesia menjadi sangat relevan dan strategis bagi pengembangan Tridarma Perguruan Tinggi kami,” tutur Veby.
Ketua DPW Mafindo Bengkulu, Fonika Thoyib, mengatakan mahasiswa perlu memahami perkembangan AI agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak dan bertanggung jawab. AI dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran, penyelesaian tugas, pencarian informasi, hingga berbagai kegiatan akademik lainnya.
Namun, Fonika mengingatkan mahasiswa tetap harus mengandalkan kemampuan berpikir kritis dan analisis dalam menggunakan AI. Pemanfaatan teknologi perlu dipadukan dengan pemahaman teori dan kondisi nyata di lapangan.
“Mahasiswa di era sekarang harus memahami AI dan menggunakannya dengan bijak sesuai kebutuhan dalam proses perkuliahan maupun membuat tugas. Tetapi harus diingat bahwa AI hanya alat bantu,” ujar Fonika.
Menurutnya, kemampuan analisis dan pemikiran rasional tetap menjadi bagian penting dalam proses akademik. Mahasiswa tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi dalam menyelesaikan persoalan maupun menghasilkan karya akademik.
Pemateri Mafindo Bengkulu, Iyud Dwi Mursito, menyampaikan materi bertema “Etika Penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa”. Materi tersebut membahas penggunaan AI secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam lingkungan akademik.
Mahasiswa diberikan pemahaman mengenai manfaat AI untuk membantu mencari informasi, memahami konsep yang sulit, menghasilkan ide kreatif, mendukung penelitian, dan melakukan analisis data. Mereka juga dibekali pemahaman mengenai risiko penggunaan AI, seperti ketergantungan teknologi, informasi palsu, plagiarisme, dan menurunnya kemampuan berpikir kritis.
Melalui kerja sama tersebut, STIKES Bhakti Husada Bengkulu dan Mafindo berharap kolaborasi dapat terus dikembangkan dalam kegiatan edukasi dan penguatan literasi digital. Kolaborasi ini diharapkan mendorong mahasiswa lebih kritis dalam memilah informasi serta mampu menggunakan teknologi secara etis untuk mendukung ilmu pengetahuan dan pelayanan kepada masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....