Mafindo Bekali PPID UINFAS Bengkulu Cegah Penyebaran Hoaks
- 27 Agt 2026 16:01 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Derasnya arus informasi digital menuntut masyarakat semakin kritis dalam memilah informasi. Di tengah maraknya hoaks dan misinformasi, kemampuan melakukan verifikasi fakta menjadi penting agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat dan terpercaya.
Upaya memperkuat pengelolaan informasi publik dilakukan Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu melalui Pelatihan Pengelolaan Website dan Konten PPID Pelaksana dalam rangka PPID Quarterly Forum 2026. Kegiatan yang digelar Kamis 27 Agustus 2026 tersebut diikuti 20 peserta pengelola PPID se-UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 3 Rektorat UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dibuka Wakil Rektor UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Dr. Japarudin. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya kampus meningkatkan kapasitas pengelola informasi publik dalam menyajikan konten digital yang berkualitas dan bertanggung jawab.
Dalam arahannya, Dr. Japarudin berharap jajaran PPID UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dapat menjalankan tugas sesuai amanat Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. PPID memiliki peran strategis dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi publik secara transparan, akuntabel, dan mudah diakses.
Ia mengatakan perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi lembaga pendidikan untuk memperluas penyampaian informasi publik. Namun, kemajuan tersebut harus diimbangi kemampuan sumber daya manusia untuk memastikan setiap informasi yang dipublikasikan telah melalui proses verifikasi.
Pengelola PPID diharapkan semakin siap memberikan layanan informasi publik secara profesional melalui penguatan kapasitas dan literasi digital. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun tata kelola informasi yang transparan, terpercaya, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, narasumber Mafindo Bengkulu, Iyud Dwi Mursito, M.I.Kom, menyampaikan materi tentang pentingnya literasi informasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat saat ini tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat menjadi pembuat konten, penyebar informasi, hingga pembentuk opini publik.
Ia menjelaskan tantangan utama bukan hanya banyaknya informasi yang beredar, tetapi juga cepatnya penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Kondisi tersebut membuat informasi palsu dapat menyebar luas sebelum kebenarannya diperiksa.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai prinsip dasar literasi informasi. Materi mencakup cara mencari dan mengevaluasi informasi, membagikannya secara bertanggung jawab, serta menggunakan informasi secara etis.
Iyud menekankan literasi digital tidak lagi sebatas kemampuan membaca informasi. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....