Perkebunan Salak di Bengkulu tengah Jadi Agrowisata

  • 24 Agt 2026 14:06 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Perkebunan salak di Dusun Pulau Beringin, Desa Harapan, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, yang dikembangkan sejak 1990 kini dimanfaatkan sebagai lokasi agrowisata. Pengunjung dapat berkeliling, mengenal berbagai jenis salak, hingga mengikuti kegiatan panen dan membeli hasil perkebunan langsung dari pengelola tanpa dipungut biaya masuk.

Pengelola kebun salak, Rini, mengatakan pengembangan lokasi agrowisata tersebut berawal dari ketertarikan masyarakat yang ingin melihat perkebunan sekaligus mendapatkan pengalaman memanen buah. Aktivitas tersebut kemudian dikembangkan pengelola dengan memberikan pendampingan kepada pengunjung selama berada di area perkebunan.

“Awalnya pengunjung banyak yang ingin mencoba sendiri. Jadi kami beri kesempatan untuk berkeliling kebun, sekaligus kami ajarkan cara mengambil buah yang sudah siap dipanen,” ujar Rini pada Senin, 24 Agustus 2026.

Selain kegiatan di area kebun, pengelola menyediakan sejumlah saung yang dapat digunakan pengunjung untuk beristirahat. Keberadaan fasilitas tersebut memberikan ruang bagi pengunjung untuk menikmati suasana perkebunan setelah berkeliling di area kebun.

Rini menyebutkan, perkebunan tersebut memiliki beberapa varietas salak, di antaranya Bali dan Pondoh dengan harga jual sekitar Rp10.000 per kilogram. Salak Bali menjadi jenis yang paling banyak diminati karena memiliki rasa manis dan sedikit sepat, sedangkan salak Pondoh dikenal dengan rasa manis, segar, dan tidak sepat.

Proses panen di perkebunan dilakukan secara berkala sekitar dua hingga tiga hari sekali. Hasil panen tersebut kemudian dapat dibeli oleh pengunjung yang ingin membawa pulang salak langsung dari lokasi budidaya.

Lokasi perkebunan berjarak sekitar 45 menit hingga satu jam dari pusat Kota Bengkulu. Menurut Rini, kunjungan masyarakat biasanya meningkat saat hari libur karena pengunjung memiliki waktu lebih untuk menikmati kawasan perkebunan.

Salah seorang pengunjung, Rahma, mengemukakan mengetahui keberadaan kebun tersebut dari temannya yang pernah datang sebelumnya. Dirinya tertarik berkunjung karena dapat melihat langsung perkebunan sekaligus membeli buah yang berasal dari lokasi tersebut.

“Saya tertarik karena di sini bukan cuma bisa beli buah saja. Tapi juga bisa lihat langsung kebunnya, jadi lebih asik,” ungkap Rahma.

Rahma menilai keberadaan agrowisata tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan membeli salak di tempat penjualan biasa. Menurutnya, aktivitas yang ditawarkan membuat pengunjung tidak hanya datang untuk mendapatkan buah, tetapi juga dapat mengenal proses budidaya salak secara lebih dekat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....