Pegadaian Dorong Pembangunan Ekosistem Emas Berstandar Internasional
- 21 Agt 2026 16:16 WIB
- Bengkulu
Novryandi: Perkuat Peran dalam Indonesia Bullion Market Association
RRI.CO.ID, Jakarta – Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi dibentuk untuk mendorong pengembangan pasar bullion yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan melalui kolaborasi, standardisasi, edukasi, serta penguatan ekosistem industri emas nasional. Peresmian IBMA diselenggarakan di BSI Tower, Jakarta, pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Pembentukan IBMA sejalan dengan peluncuran kegiatan usaha bullion atau Layanan Bank Emas oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Setelah satu tahun berjalan, industri bullion Indonesia menunjukkan perkembangan positif dengan membangun fondasi ekosistem serta memperlihatkan besarnya potensi pasar bullion nasional.
Saat ini, bullion bank di Indonesia telah mengelola lebih dari 170 ton emas, dengan 153 ton di antaranya dikelola oleh Pegadaian. Capaian tersebut mendapat apresiasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI tanggal 14 Agustus 2026.
Presiden menilai Bank Emas Indonesia merupakan salah satu terobosan strategis yang mampu mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Peresmian IBMA dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti yang juga merupakan Direktur Pemasaran, Penjualan dan Pengembangan Produk PT Pegadaian, serta Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo, dan disaksikan oleh 11 founder IBMA yang diwakili oleh masing-masing Direktur Utama perusahaan.
Peresmian tersebut turut dihadiri oleh Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma’ruf, Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan Dicky Kartikoyono, Chief Economist BPI Danantara Reza Yamora Siregar, Kepala Badan Standardisasi Nasional Donny Purnomo Januardhi Effyandono, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya, hingga representatif World Gold Council dan Malaysia Gold Association serta tamu undangan lainnya.
Sebagai salah satu produsen emas terbesar, Indonesia memiliki potensi geologis yang kuat untuk menjadi pusat pasar bullion. Namun, potensi tersebut selama ini belum sepenuhnya teroptimalkan karena belum adanya lembaga yang menyatukan para pelaku usaha dan mendorong penerapan standar industri yang seragam.
IBMA hadir untuk mengisi kebutuhan tersebut. Sebagai mitra strategis regulator, asosiasi ini menjadi jembatan yang menghubungkan para pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir, mulai dari sektor pertambangan, jasa keuangan, pemurnian (refinery), manufaktur, hingga berbagai jasa pendukung bisnis lainnya, sejalan dengan tujuan Asta Cita pemerintah.
Sejumlah perusahaan yang telah bergabung dalam IBMA antara lain PT Pegadaian, Bank Syariah Indonesia (BSI), PT Hartadinata Abadi Tbk, UBS Gold, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), Galeri 24, Brinks Solution Indonesia, ICDX Group, PT Central Mega Kencana (CMK) yang menaungi merek perhiasan Mondial, Frank & co. dan The Palace Jeweler, PT Sentral Kreasi Kencana (SKK Jewels), serta PT Laku Emas Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia menempatkan pengembangan pasar bullion sebagai salah satu pilar penting transformasi ekonomi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029, sejalan dengan agenda hilirisasi dalam visi Asta Cita.

Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil III Sumbagsel, Novryandi, menyampaikan bahwa pembentukan IBMA menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem emas nasional sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah komoditas emas.
“Pembentukan Indonesia Bullion Market Association merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem emas Indonesia dari hulu hingga hilir. Bagi Pegadaian Kanwil III Sumbagsel, perkembangan ekosistem bullion ini menjadi momentum penting untuk terus meningkatkan literasi masyarakat mengenai emas sekaligus memperluas akses terhadap berbagai layanan keuangan berbasis emas yang aman dan terpercaya,” ujar Novryandi.
Berdasarkan data World Gold Council, produksi emas Indonesia pada 2025 mencapai 104 ton dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-10 dunia. Potensi hulu tersebut juga didukung oleh tren global, dengan permintaan investasi emas melalui ETF serta pembelian emas batangan dan koin yang terus meningkat.
Melalui integrasi IBMA, proses hilirisasi komoditas emas diharapkan dapat berjalan lebih cepat. Instrumen keuangan berbasis emas, seperti tabungan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas, juga berpotensi semakin beragam, sekaligus menciptakan deeper market dengan tingkat likuiditas yang lebih tinggi.
Novryandi menambahkan, penguatan ekosistem bullion nasional juga sejalan dengan transformasi Pegadaian sebagai pelopor Layanan Bank Emas di Indonesia. Menurutnya, keberadaan ekosistem yang terintegrasi akan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, pelaku usaha, investor, maupun perekonomian nasional.
“Pegadaian Kanwil III Sumbagsel melihat pengembangan pasar bullion bukan hanya sebagai peluang pertumbuhan industri emas, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan dan perekonomian daerah. Dengan ekosistem emas yang semakin terintegrasi, masyarakat akan memiliki lebih banyak pilihan untuk berinvestasi, memperoleh pembiayaan berbasis emas, maupun memanfaatkan layanan emas secara produktif,” tambah Novryandi.
Melalui penguatan ekosistem bullion yang terintegrasi dan berdaya saing global, seluruh anggota IBMA berkomitmen mengoptimalkan potensi emas nasional untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Apalagi pengembangan produk bullion, diakui Novryandi, penguatan sinergi dengan sektor keuangan syariah, kemudahan berusaha, serta peningkatan literasi masyarakat akan terus didorong guna memperluas basis investor sekaligus meningkatkan pemanfaatan emas dalam sistem keuangan nasional.
Dimana pembentukan IBMA sekaligus menandai keseriusan para pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengidentifikasi peluang, menjawab tantangan, dan memperkuat arah kebijakan dalam membangun rantai nilai emas nasional dari hulu hingga hilir.
"Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan mampu mengembangkan inovasi produk keuangan dan perdagangan berbasis emas yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan," tutur
Novryandi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....