Kenali HIV/AIDS: Penularan, Gejala, dan Pencegahannya
- 21 Agt 2026 15:32 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID,Bengkulu - HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV dapat menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 yang berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh, jumlah sel CD4 semakin berkurang, daya tahan tubuh akan melemah sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.
Melansir dari laman Kemenkes RI HIV dan AIDS merupakan dua kondisi yang berbeda. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan sekumpulan kondisi atau gejala yang dapat terjadi ketika infeksi HIV telah menyebabkan sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan yang berat.
Apabila infeksi HIV tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, virus dapat terus berkembang dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh hingga mencapai kondisi AIDS. HIV merupakan penyakit jangka panjang yang hingga saat ini belum dapat dihilangkan sepenuhnya dari tubuh.
Namun, perkembangan virus dapat dikendalikan dengan terapi Antiretroviral (ARV). Pengobatan ARV dapat membantu menurunkan jumlah virus HIV dalam tubuh.
Serta menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap berfungsi. Dengan menjalani pengobatan secara rutin dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan, orang dengan HIV dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.
Merangkum dari laman resmi Kemenkes RI, HIV dapat menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu dari orang yang telah terinfeksi. Cairan tubuh yang dapat menjadi media penularan HIV antara lain darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI.
Penularan HIV dapat terjadi melalui :
1. Hubungan seksual yang tidak aman.
2. Penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi dan digunakan secara bersama-sama.
3. Penggunaan alat yang tidak steril dan terkontaminasi darah, seperti alat tato atau alat tertentu lainnya.
4. Transfusi darah yang mengandung virus HIV dan tidak melalui proses skrining yang sesuai.
5. Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi selama kehamilan, proses persalinan, atau menyusui.
Namun risiko penularan dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi dan jenis paparan. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pemeriksaan HIV perlu dilakukan terutama pada orang yang memiliki faktor risiko.
HIV tidak menular melalui beberapa aktivitas harian, seperti :
1. Berjabat tangan atau bersentuhan.
2. Berpelukan
3. Makan menggunakan piring atau alat makan bersama.
4. Berbagi makanan dan minuman.
5. Menggunakan toilet bersama.
Dengan demikian, orang dengan HIV tidak perlu dijauhi atau dikucilkan. Interaksi sosial sehari-hari dengan orang yang hidup dengan HIV tidak menyebabkan seseorang tertular HIV.
Merangkum dari laman rami Kemenkes RI berikut merupakan tanda dan gejala HIV :
1. Demam yang berlangsung lama.
2. Diare kronis atau diare yang berlangsung terus-menerus.
3. Penurunan berat badan.
4. Batuk yang berlangsung lama.
5. Sariawan atau infeksi pada Mengurangi risiko penularan HIV.
Terapi ARV perlu dilakukan secara rutin sesuai dengan petunjuk dokter. Pengobatan HIV merupakan pengobatan jangka panjang dan pada umumnya perlu dijalani seumur hidup.
Upaya pencegahan HIV dapat dilakukan dengan menghindari perilaku yang berisiko menularkan HIV dan melakukan pemeriksaan apabila memiliki risiko terpapar. Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain :
1. Menghindari hubungan seksual yang berisiko.
2. Menggunakan kondom secara benar untuk mengurangi risiko penularan HIV.
3. Tidak menggunakan jarum suntik secara bersama-sama.
4. Menggunakan alat tato dan alat lainnya yang steril.
5. Melakukan pemeriksaan HIV apabila memiliki faktor risiko.
6. Ibu hamil melakukan pemeriksaan HIV untuk mendeteksi infeksi sedini mungkin.
7. Mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak.
8. Bagi orang yang telah terdiagnosis HIV, menjalani terapi ARV secara rutin sesuai anjuran dokter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....