Inovasi Warga Bengkulu tengah Olah Buah Salak Jadi Kopi dań Dodol
- 13 Agt 2026 14:00 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Melimpahnya buah salak di Dusun Pulau Beringin, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bahan baku produk olahan. Biji salak diolah menjadi bubuk kopi, sementara daging buahnya dijadikan bahan dasar dodol.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh salah seorang petani, Yusniati, sejak Tahun 2014 lalu. Berawal dari keinginannya memanfaatkan salak yang melimpah, dengan cara mengembangkan berbagai produk olahan yang memanfaatkan bagian buah secara maksimal.
“Waktu itu buah salak melimpah, jadi saya berpikir mau coba-coba bikin inovasi dari buah salak. Dagingnya saya bikin dodol, setelah itu berkembang lagi pemikirannya, pokoknya tidak ada yang terbuang,” ujar Yusniati, pada Kamis 13 Augustus 2026.
Untuk menghasilkan kopi salak, biji yang telah dipisahkan dari buah dicuci dan dijemur hingga kering. Kemudian disangrai lalu ditumbuk hingga menjadi bubuk, dan dikemas untuk dipasarkan.
Sementara itu, daging salak yang telah dibersihkan dikukus terlebih dahulu sebelum dihaluskan. Daging yang telah di haluskan, dicampur dengan tepung ketan, gula merah, gula pasir, garam, dan santan, lalu dimasak hingga mengental sebelum dibentuk menjadi dodol.
Harga yang di tawarkan cukup beragam, kopi salak dijual mulai dari Rp16.000 hingga Rp20.000 per kemasan, sedangkan dodol dijual dengan harga Rp15.000 hingga Rp25.000 per kemasan. Produk yang disajikan juga dapat diperoleh di sejumlah pusat oleh-oleh yang ada di Kota Bengkulu, sehingga masyarakat dapat lebih mudah menemukan dan mencoba produk berbahan dasar salak tersebut.
Meski memiliki potensi untuk dikembangkan, produksi kopi salak dalam jumlah besar masih menghadapi kendala. Proses pengolahan biji hingga menjadi bubuk membutuhkan waktu dan tenaga, sementara hasil akhirnya relatif sedikit dibandingkan bahan awal.
Ide mengembangkan kopi dari biji salak juga terinspirasi dari kebiasaan masyarakat di Medan yang memanfaatkannya sebagai minuman ketika berada di kawasan perkebunan yang jauh dari permukiman. Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi suatu produk yang dapat dikemas dan dipasarkan.
Olahan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat, salah satunya Novrini yang mengaku telah mencoba kopi salak dan kembali membelinya. Berbeda dari kopi pada umumnya, Olahan ini memiliki cita rasa yang khas dan rasanya tidak terlalu pahit.
Menurut Novrini, pengolahan salak menjadi produk turunan dapat memberikan nilai tambah bagi petani karena hasil panen tidak hanya bergantung pada penjualan buah segar. Ia juga menilai inovasi ini berpeluang dikembangkan sebagai oleh-oleh khas daerah.
Novrini berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan terhadap pengembangan produk olahan salak. Dukungan ini diperlukan untuk memperluas pemasaran agar semakin dikenal sebagai salah satu potensi unggulan daerah.
“Produk ini juga menjadi nilai tambah untuk petani, karena bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan kalau hanya menjual buah segar saja. Pemerintah daerah harus mendukung petani agar produk supertitles ini bisa dijadikan ciri khas daerah,” ujar Novrini.
Penulis : Nida Khofiyya, Mahasiswa Magang UINFAS Bengkulu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....