Merajut Kembali Benteng Biru Pulau Tikus Bengkulu dari Ancaman

  • 11 Agt 2026 21:21 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Di balik hamparan biru laut yang mengelilingi Pulau Tikus, tersimpan kehidupan yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Karang-karang yang tumbuh di dasar laut menjadi rumah bagi berbagai biota sekaligus benteng alami yang membantu meredam kekuatan gelombang sebelum mencapai daratan.

Namun, benteng alami itu menghadapi tantangan. Pulau Tikus, pulau kecil yang berada di lepas pantai Kota Bengkulu, dalam beberapa tahun terakhir terus berhadapan dengan abrasi yang perlahan menggerus daratannya.

Di tengah ancaman tersebut, upaya menjaga kehidupan bawah laut kembali dilakukan.

Sebanyak 760 bibit terumbu karang ditanam di tiga titik perairan Pulau Tikus, Sabtu 8 Agustus 2026.

Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 itu digagas Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Fuel Terminal Pulau Baai, berkolaborasi dengan Stars Diving Bengkulu dan masyarakat.

Bagi para penyelam yang turun ke laut pagi itu, bibit-bibit karang yang ditanam bukan sekadar potongan organisme laut.

Setiap bibit membawa harapan agar kehidupan bawah laut Pulau Tikus kembali tumbuh dan menjadi penyangga bagi ekosistem pesisir.

Sebanyak 40 rak spider digunakan sebagai media transplantasi. Setiap rak diisi 19 bibit terumbu karang yang kemudian ditempatkan pada tiga kedalaman berbeda, yakni sekitar dua meter, empat hingga lima meter, serta enam hingga tujuh meter.

Metode spider dipilih bukan tanpa alasan. Teknik tersebut sebelumnya telah digunakan dalam penelitian rehabilitasi terumbu karang di perairan Pulau Tikus dan menunjukkan potensi tingkat kelangsungan hidup karang yang baik pada kedalaman tertentu.

Dari permukaan, aktivitas itu mungkin terlihat sederhana. Para penyelam membawa rak-rak berisi bibit karang, kemudian menempatkannya secara hati-hati di dasar laut.

Tetapi di bawah permukaan, pekerjaan itu menjadi bagian dari proses panjang. Karang yang ditanam membutuhkan waktu untuk tumbuh, beradaptasi, dan membentuk kembali ekosistem yang sempat mengalami tekanan.

Karena itu, konservasi tidak berhenti ketika bibit selesai ditanam.

Masyarakat ikut dilibatkan dalam kegiatan tersebut, termasuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) binaan Pertamina. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena keberadaan terumbu karang tidak hanya berkaitan dengan kelestarian lingkungan, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang bergantung pada potensi wisata bahari Pulau Tikus.

Foto : Prosesi sebelum pemasangan 760 bibit terumbu karang ditanam di tiga titik perairan Pulau Tikus di darat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu, Anshar Amin, menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi kekuatan penting dalam menjaga ekosistem laut.

Menurutnya, konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan aksi nyata dan keterlibatan masyarakat agar kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh menjadi gerakan bersama.

“Konservasi membutuhkan aksi nyata dan keterlibatan banyak pihak. Apa yang dilakukan hari ini menjadi langkah positif untuk memulihkan terumbu karang sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan laut Bengkulu,” ungkap Anshar.

Terumbu karang bagi Pulau Tikus memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik pemandangan bawah laut.

Di antara karang-karang tersebut, berbagai jenis ikan dan biota laut mencari makan, berlindung, dan berkembang biak.

Pada saat yang sama, struktur terumbu karang turut membantu memecah energi gelombang yang menuju kawasan pesisir.

Dengan demikian, menjaga terumbu karang juga berarti menjaga salah satu lapisan perlindungan alami Pulau Tikus.

Menanam Hari Ini, Merawat Bertahun-tahun

Bagi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, penanaman 760 bibit tersebut merupakan awal dari rangkaian upaya konservasi, bukan tujuan akhir.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan karang tersebut untuk tumbuh dan bertahan.

Pertamina menargetkan tingkat keberhasilan pertumbuhan mencapai 80 persen. Target tersebut membuat proses pemantauan dan perawatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan konservasi.

“Penanaman ini bukan sekadar menambah jumlah terumbu karang, tetapi menjadi langkah awal untuk memulihkan ekosistem Pulau Tikus. Kami menargetkan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 80 persen, sehingga pemantauan dan perawatan perlu dilakukan bersama,” ujar Rusminto.

Ia berharap keterlibatan masyarakat dan Pokdarwis tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Kesadaran untuk menjaga kawasan laut diharapkan terus tumbuh sehingga Pulau Tikus tetap mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.

Harapan itu penting. Sebab, benteng biru membutuhkan waktu untuk tumbuh, sementara kerusakan dapat terjadi jauh lebih cepat. Mengingat setiap bibit yang ditanam hari ini karena itu menjadi investasi ekologis untuk masa depan Pulau Tikus.

Foto : Terumbu karang.

Jika tumbuh dengan baik, hamparan karang baru bukan hanya akan menjadi rumah bagi biota laut. Ia juga dapat memperkuat daya dukung kawasan wisata, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus membantu mempertahankan pulau kecil tersebut dari tekanan lingkungan.

Di sanalah makna konservasi Pulau Tikus menemukan bentuknya. Bukan sekadar menanam karang, tetapi merawat kehidupan yang berada di bawah permukaan laut.

Bukan pula hanya menjaga keindahan wisata, melainkan mempertahankan benteng alami yang selama ini ikut melindungi pesisir Bengkulu. Terlebih kolaborasi Pertamina, pemerintah, komunitas penyelam, Pokdarwis, dan masyarakat menjadi bagian dari ikhtiar panjang tersebut. Sebuah langkah kecil yang dimulai dari dasar laut, dengan harapan kelak tumbuh menjadi ekosistem yang kembali kokoh.

Upaya itu sekaligus juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 14 tentang Ekosistem Lautan melalui pelestarian lingkungan laut, serta Tujuan 17 tentang Kemitraan untuk mencapai Tujuan melalui kerja sama antara perusahaan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

Belum lagi di tengah ancaman abrasi yang terus membayangi Pulau Tikus, 760 bibit karang itu kini menjadi simbol harapan. Harapannya bahwa laut tidak hanya menjadi batas bagi sebuah pulau, tetapi juga menjadi pelindung yang terus hidup dan tumbuh bersama masyarakat yang menjaganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....