Musim Kemarau, Petani Semangka Terancam Merugi
- 31 Jul 2026 16:24 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bintuhan - Musim kemarau berkepanjangan mulai mengancam petani semangka di Desa Tanjung Baru, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur. Kekurangan air membuat pertumbuhan tanaman semangka tidak maksimal.
Salah seorang petani semangka Joko mengatakan tanaman semangka tanpa biji miliknya seluas 1 hektare tumbuh jauh dibawah normal saat musim kemarau ini. Saat ini panjang sulur tanaman semangka baru mencapai sekitar 1 meter.
Padahal pada kondisi normal sulur semangka seharusnya sudah tumbuh sekitar 3 meter. Para petani mengaku harus bekerja lebih keras untuk menjaga kondisi tanaman dengan melakukan penyiraman secara rutin menggunakan pompa air maupun sumber air yang masih tersedia.
“Musim kemarau ini buat pertumbuhan semangka kami jadi tidak normal. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya ketersediaan air yang dibutuhkan tanaman selama masa pertumbuhan,” ujar Petani Semangka kepada RRI Jumat 31 Juli 2026.
Selain kekurangan air, tanaman semangka milik Joko nyatanya juga diserang oleh berbagai hama, mulai dari kutu kebul, thrips dan ulat kupu-kupu. Serangan hama sulit dikendalikan karena penyemprotan insektisida tidak dapat dilakukan secara maksimal akibat terbatasnya pasokan air.
Menurutnya Joko, apabila kemarau terus berlanjut ukuran dan kualitas buah dipastikan tidak maksimal sehingga nilai jual semangka ikut menurun. Joko memprediksi hasil panen semangka nantinya bisa saja merosot hingga 50%.
Sebelumnya ketika buang normal hasil panen buah semangka bisa mencapai 25 ton per hektare. Namun dengan kondisi seperti saat ini petani memprediksi hasil panen hanya berkisar 10 ton saja.
Jika hasil panen hanya 10 ton, pendapatan petani dipastikan menurun tajam setelah dikurangi seluruh biaya produksi dan tenaga. Petani khawatir panen kali ini tidak mampu menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Joko mengaku telah mengeluarkan modal sekitar 20 juta rupiah untuk membudidayakan semangka tanpa biji tersebut. Biaya tersebut digunakan untuk pengolahan lahan, pembelian benih, pupuk, pestisida, hingga upah tenaga kerja, sewa lahan dan lainnya.
“Jika musim kemarau tidak kunjung selesai, nampaknya kami akan rugi besar. Karena hasil panen kami pasti akan turun sampai 50%,” ucap petani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....