Dari Pigmen Gua hingga Fotokatalis, Prof. Evi Maryanti Ungkap Peran Mineral bagi Per

  • 24 Jul 2026 07:20 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Universitas Bengkulu (Unib) mengukuhkan enam guru besar baru dalam Rapat Senat Terbuka yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Rabu 22 Juli 2026. Salah satu guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Evi Maryanti, S.Si., M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Sintesis dan Karakterisasi Material Anorganik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Dalam pengukuhan tersebut, Prof. Evi menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Dari Pigmen Gua hingga Fotokatalis: Manifestasi Mineral dalam Pusaran Waktu dan Teknologi." Melalui orasi tersebut, ia menjelaskan perjalanan mineral besi oksida dari bahan pewarna seni prasejarah hingga menjadi material penting dalam teknologi lingkungan modern.

Prof. Evi mengungkapkan bahwa mineral seperti hematit, goetit, dan magnetit telah dimanfaatkan manusia prasejarah sebagai pigmen untuk melukis dinding gua sejak puluhan ribu tahun lalu. Menurutnya, perbedaan warna pigmen dipengaruhi oleh jenis mineral, proses pemanasan, dan perubahan struktur kristal yang menunjukkan adanya pengetahuan empiris manusia purba dalam mengolah bahan alam.

Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penting perkembangan seni prasejarah dunia melalui temuan lukisan figuratif dan naratif di kawasan karst Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan adanya stensil tangan di Sulawesi yang diperkirakan berusia sekitar 67,8 ribu tahun sehingga memperkuat nilai penting warisan budaya Indonesia.

Menghubungkan kajian arkeometri dengan ilmu material modern, Prof. Evi menjelaskan bahwa mineral besi oksida kini dikembangkan sebagai fotokatalis yang mampu memanfaatkan cahaya untuk menguraikan polutan menjadi senyawa yang lebih aman. Ia menilai kekayaan sumber daya mineral di Bengkulu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi material fungsional bernilai tinggi.

Menurut Prof. Evi, pasir besi di pesisir barat Sumatra mengandung magnetit, sedangkan pasir lokal dan lempung kaya akan silika serta mineral silikat yang dapat dimodifikasi. Melalui penelitian yang dilakukan bersama timnya, berbagai material fotokatalis berbasis Fe₃O₄, ZnO, zeolit, dan Metal Organic Frameworks (MOFs) berhasil dikembangkan untuk mendegradasi limbah zat warna industri tekstil secara efektif menggunakan sinar matahari.

Prof. Evi mengatakan bahwa penelitian arkeologi dan fotokatalisis bertemu pada satu titik yang sama, yaitu pemanfaatan mineral besi oksida. Menurutnya, manusia prasejarah memanfaatkan mineral tersebut sebagai tinta untuk mengabadikan cerita, sedangkan ilmuwan modern menggunakannya sebagai katalis untuk membantu memulihkan lingkungan.

Ia menambahkan bahwa teknik analisis seperti XRD, FTIR, SEM-EDS, dan spektroskopi Raman digunakan baik dalam penelitian pigmen gua maupun karakterisasi material fotokatalis. Kesamaan pendekatan ilmiah tersebut menunjukkan bahwa kajian warisan budaya dan pengembangan teknologi dapat saling mendukung dalam menghasilkan pengetahuan baru.

Prof. Evi menilai pengembangan material fotokatalis berbasis mineral lokal sejalan dengan pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya pada bidang air bersih, energi, industri, konsumsi berkelanjutan, serta ekosistem laut. Sementara itu, penelitian arkeometri turut mendukung pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Ke depan, Prof. Evi mendorong pengembangan teknologi pengolahan air limbah berbasis mineral Bengkulu dalam skala yang lebih luas serta eksplorasi asal-usul mineral pada seni cadas Indonesia. Ia juga mengusulkan pengembangan material multifungsi yang menggabungkan kemampuan adsorpsi, fotokatalisis, dan sifat magnetik untuk mendukung solusi lingkungan yang lebih efektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....