Volume Sampah di TPA Terus Meningkat, Marga Diimbau Kelola Sampah Secara Mandiri
- 11 Jul 2026 00:47 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID,Bengkulu Selatan - Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan Kabupaten Bengkulu Selatan 42 ton sampah masuk ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) setiap harinya. Jumlah tersebut didominasi oleh sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan permukiman, pasar, pusat aktivitas ekonomi, hingga fasilitas umum.
Kabid Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan (DLKH) Kabupaten Bengkulu Selatan Tiara, menjelaskan tingginya volume sampah tidak terlepas dari masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengurangi produksi . Selain itu, kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik juga belum menjadi budaya di sebagian besar rumah tangga.
Akibatnya, hampir seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat langsung diangkut ke TPA tanpa melalui proses pengurangan maupun pemanfaatan kembali. Kondisi ini membuat kapasitas pengelolaan sampah di TPA terus bertambah dari hari ke hari.
“Setiap hari itu ada sekitar 42 ton sampah yang di angkut keTPA. Kondisi TPA kita sangat memprihatinkan ya, karena memang volumenya sudah sangat tinggi,” ujar Kabid Kebersihan DLHK Bengkulu Selatan kepada RRI Jumat 10 Juli 2026.
Menurutnya, apabila masyarakat mulai membiasakan diri memilah sampah saat masih di rumah beban yang harus ditangani di TPA dapat berkurang secara signifikan. Sampah organik, misalnya masih dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dapat didaur ulang sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Sebaiknya sebelum membuang sampah itu bisa kita pisahkan dulu sampah organik dan anorganik. Jadi tidak semua sampah itu buang langsung tapi ada yamng masih bisa kita manfaatkan,” katanya.
Pengelolaan sampah di TPA yang ada di Kabupaten Bengkulu Selatan telah dirancang menggunakan metode controlled landfill. Sistem ini merupakan salah satu metode pengelolaan sampah yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Melalui metode tersebut, sampah yang telah ditumpuk seharusnya dipadatkan menggunakan alat berat, kemudian ditutup secara berkala dengan tanah uruk. Penutupan ini berfungsi untuk mengurangi bau tidak sedap, menekan perkembangan lalat dan hama, serta meminimalkan risiko pencemaran udara maupun air di sekitar lokasi TPA.
Namun dalam praktiknya, sistem tersebut belum dapat diterapkan secara maksimal, sesuai standar pengelolaan controlled landfill, penutupan timbunan sampah menggunakan tanah uruk idealnya dilakukan sedikitnya satu kali setiap minggu. Akan tetapi, kondisi keuangan yang tersedia saat ini belum memungkinkan kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin.
Selain itu keterbatasan alat berat yang dimiliki DLHK Bengkulu Selatan juga menjadi salah satu kendala. Pengelolaan TPA hanya mengandalkan satu unit ekskavator yang masih berfungsi, sementara satu unit bulldozer yang sebelumnya digunakan untuk meratakan dan memadatkan sampah mengalami kerusakan cukup berat sehingga tidak dapat dioperasikan.
“Inilah kenapa kita belum bisa melakukan pengelolaan sampah secara maksimal. Maka dari itu kami berharap adanya perhatian lebih terhadap kebutuhan pengelolaan persampahan, baik dalam bentuk peningkatan anggaran operasional maupun perbaikan fasilitas pendukung,” Katanya
Selain mengandalkan dukungandari pemerintah, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan Kabupaten Bengkulu Selatan mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam mengatasi persoalan sampah. Selain melakukan pemilahan sampah dan pemanfaatan sampah, terdapat beberapa langkah sederhana yang juga bisa dilakukan seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membawa tas belanja sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....