Balai POM Bengkulu Paparkan Strategi Pengawasan Obat dan Pangan di Era Digital
- 24 Jun 2026 17:40 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Bengkulu, Kodon Tarigan, S.Si., Apt., menjadi narasumber dalam Seminar Nasional 2026 yang digelar STIKES Al-Fatah Bengkulu di Auditorium STIKES Al-Fatah Bengkulu, Selasa 23 Juni 2026. Seminar bertajuk “Pharmacy Intelligence 2026: Transformasi Pelayanan Kefarmasian di Era Digital untuk Farmasi Klinis dan Komunitas” ini diikuti sivitas akademika, tenaga kefarmasian, serta mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Kodon Tarigan menyampaikan materi mengenai peran BPOM dalam menjamin keamanan obat dan pangan di tengah perkembangan teknologi digital. Ia menjelaskan bahwa pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses produksi hingga produk beredar di masyarakat.
Menurutnya, transformasi digital membawa perubahan besar dalam sistem distribusi dan pemasaran obat maupun pangan. Kondisi ini menuntut pengawasan yang lebih adaptif untuk memastikan produk yang beredar tetap memenuhi standar keamanan, khasiat, manfaat, dan mutu.
Kodon menyoroti berbagai langkah yang dilakukan BPOM dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk pengawasan terhadap perdagangan produk melalui platform daring. Selain itu, BPOM juga terus memperkuat regulasi dan sistem pengawasan berbasis teknologi untuk meningkatkan efektivitas pengendalian.
Pemanfaatan sistem ketertelusuran produk menjadi salah satu strategi yang dikembangkan guna memudahkan pengawasan. Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi asal-usul dan peredaran produk secara lebih cepat dan akurat.
BPOM juga mulai mengoptimalkan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung pengawasan. Teknologi ini dimanfaatkan untuk membantu deteksi dini terhadap potensi pelanggaran dan risiko yang dapat membahayakan masyarakat.
Di sisi lain, Kodon mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengawasan obat dan pangan di era digital. Salah satunya adalah maraknya peredaran produk ilegal melalui berbagai platform online yang sulit dipantau secara konvensional.
Tantangan lainnya adalah penyebaran informasi yang menyesatkan terkait produk kesehatan dan pangan. Perkembangan teknologi yang sangat cepat juga menuntut peningkatan kapasitas pengawasan serta pengelolaan data yang lebih baik.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BPOM terus mengembangkan sistem pengawasan berbasis data yang terintegrasi. Penguatan kerja sama dengan marketplace dan platform media sosial juga dilakukan untuk mempercepat pengawasan terhadap produk yang berisiko.
Selain pengawasan, edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi langkah penting dalam perlindungan konsumen. Literasi digital yang baik diharapkan mampu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilih produk yang aman dan legal.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan tingginya partisipasi peserta seminar. Berbagai pertanyaan mengenai pengawasan obat dan pangan serta peran tenaga kefarmasian dalam memberikan edukasi kepada masyarakat menjadi topik utama yang dibahas.
Melalui kegiatan ini, Balai POM di Bengkulu berharap pemahaman masyarakat akademik dan tenaga kefarmasian terhadap pentingnya keamanan obat dan pangan semakin meningkat. Kolaborasi antara dunia pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemerintah juga diharapkan dapat memperkuat upaya perlindungan kesehatan masyarakat di era digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....