Lewat Dialog Kebangsaan, Mahasiswa Bengkulu Tegaskan Kawal Kebijakan Pemerintah

  • 22 Jun 2026 04:05 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu – Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno (UINFAS) Bengkulu menggelar Dialog Kebangsaan bertema "Geopolitik Global dan Dampaknya terhadap Kedaulatan Indonesia" di Taman Wisata Mangrove Bhadrika, Minggu 21 Juni 2026 malam. Kegiatan ini menghadirkan Presiden Mahasiswa Unihaz Pajar Pratama Putra, Presiden Mahasiswa STIA Tamara, Presiden Mahasiswa UINFAS Andika Saputra, Presiden Mahasiswa Unib Ghifar, Presiden Mahasiswa Poltekes Naufal, serta Dosen Politik Islam UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu Ivan Syahputra.

Presiden Mahasiswa Unib, Ghifar, mengapresiasi DEMA UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu yang telah memfasilitasi ruang dialog bagi mahasiswa lintas kampus. Menurutnya, forum tersebut menjadi wadah melahirkan gagasan, ide, dan arah gerakan mahasiswa dalam merespons dinamika geopolitik yang terjadi saat ini.

"Konflik dan ketegangan yang terjadi di berbagai belahan dunia tidak boleh mengubah prinsip dasar kedaulatan Indonesia. Kedaulatan bangsa, harus tetap berada di tangan rakyat sebagaimana amanat demokrasi," tuturnya.

Ghifar menegaskan mahasiswa menolak segala bentuk perpecahan maupun upaya pengondisian opini yang mendiskreditkan kelompok kritis. Ia menyoroti adanya stigma yang kerap diberikan kepada mahasiswa dan masyarakat sipil yang bersuara kritis dengan menyebut mereka sebagai antek asing atau agen kepentingan tertentu.

Menurutnya, kritik yang disampaikan mahasiswa lahir dari keresahan nyata terhadap berbagai persoalan bangsa. Karena itu, mahasiswa akan terus mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang terjadi.

Ia menegaskan mahasiswa meyakini setiap program pemerintah pada dasarnya memiliki tujuan baik. Namun sebagai fungsi kontrol sosial, mahasiswa akan terus mengoreksi, mengawasi, dan menyampaikan kritik ketika menemukan kebijakan yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UINFAS Bengkulu, Andika Saputra, mengatakan dialog kebangsaan tersebut digelar untuk menumbuhkan sikap kritis mahasiswa dalam menyikapi berbagai isu nasional. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh mudah terprovokasi oleh isu yang berkembang tanpa melakukan kajian yang mendalam.

Andika menilai mahasiswa harus mampu melihat secara objektif berbagai persoalan yang benar-benar merugikan rakyat. Oleh sebab itu, kegiatan dialog menjadi sarana penting untuk membangun kesadaran kritis sekaligus memperkuat pemahaman terhadap isu-isu geopolitik dunia.

Ia menjelaskan forum tersebut juga menjadi ruang penyatuan perspektif dan visi mahasiswa Bengkulu dalam merespons berbagai kebijakan pemerintah. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengkaji dan mengevaluasi program-program yang berjalan demi kepentingan masyarakat.

Andika menegaskan mahasiswa Bengkulu memiliki rasa cinta yang besar terhadap daerah dan bangsa. Karena itu, BEM se-Bengkulu berupaya menyatukan langkah, memperkuat kajian, dan membangun gerakan yang bertujuan mendorong perbaikan bagi Indonesia dan Bengkulu ke depan.

Presiden Mahasiswa Universitas Hazairin Bengkulu, Pajar Pratama Putra, menyebut dialog publik tersebut sebagai kegiatan yang positif dan membangun kesadaran intelektual mahasiswa. Menurutnya, peran sebagai agen perubahan menuntut mahasiswa untuk aktif mengkritisi berbagai kebijakan dan dinamika politik yang terjadi.

Ia menilai mahasiswa harus memiliki keberanian menyampaikan kritik terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Khusus di Bengkulu, Pajar menyoroti minimnya ruang komunikasi antara pemerintah daerah dengan mahasiswa saat menyampaikan aspirasi melalui aksi.

Pajar mengatakan beberapa kali aksi mahasiswa digelar, namun tidak mendapat respons langsung dari kepala daerah. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu persoalan yang perlu menjadi bahan evaluasi bersama.

Presiden Mahasiswa Poltekes Bengkulu, Naufal, menjelaskan kegiatan tersebut tidak sekadar untuk meramaikan suasana atau menjadi agenda seremonial. Forum itu, kata dia, bertujuan menjadi pemantik kesadaran bagi mahasiswa agar tidak bersikap apatis terhadap kondisi bangsa.

Ia menegaskan Indonesia selama ini menganut politik luar negeri bebas aktif yang harus terus dijaga. Karena itu, setiap perkembangan geopolitik internasional perlu dipahami secara kritis agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi kepentingan nasional.

Naufal menilai berbagai dinamika hubungan internasional yang melibatkan Indonesia perlu dicermati secara mendalam oleh mahasiswa. Pemahaman yang baik terhadap geopolitik akan membantu mahasiswa menilai dampaknya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang di Bengkulu. Menurutnya, program-program pemerintah seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih perlu dievaluasi secara menyeluruh apabila ditemukan dampak yang tidak sesuai harapan masyarakat.

Selain itu, Ketua Senat Mahasiswa UINFAS Bengkulu, Haikal Fidi Akbar, mengatakan dialog kebangsaan tersebut digelar untuk merespons berbagai krisis yang sedang terjadi di Indonesia. Melalui forum itu, mahasiswa berupaya membedah dan mengevaluasi berbagai persoalan secara objektif sebelum menentukan sikap dan gerakan.

Haikal menjelaskan sejumlah persoalan yang terjadi saat ini memang tidak terlepas dari pengaruh geopolitik global. Namun demikian, menurutnya tetap diperlukan evaluasi terhadap respons dan kebijakan pemerintah dalam menghadapi berbagai dinamika tersebut.

Ia menegaskan setiap aksi dan gerakan mahasiswa harus dilandasi kebenaran yang murni, berbasis data, dan tidak dipengaruhi provokasi. Dengan demikian, gerakan mahasiswa dapat benar-benar berfungsi sebagai instrumen evaluasi terhadap jalannya pemerintahan baik di tingkat nasional maupun daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Dosen Politik Islam UINFAS Bengkulu, Ivan Syahputra, menilai gejolak geopolitik yang terjadi saat ini dapat menjadi energi positif bagi mahasiswa. Menurutnya, kondisi tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat semangat kritis, baik melalui kajian ilmiah maupun gerakan sosial.

Ivan menegaskan sikap kritis mahasiswa harus dibangun melalui diskusi, dialog, dan kajian yang berbasis data. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa menolak segala bentuk tindakan anarkis maupun perbuatan yang bertentangan dengan hukum dalam menyampaikan aspirasi.

Menurutnya, demonstrasi dan dialog kebangsaan merupakan dua instrumen yang saling melengkapi dalam perjuangan mahasiswa. Gerakan di jalanan perlu diimbangi dengan diskusi dan kajian ilmiah agar setiap tuntutan memiliki dasar argumentasi yang kuat.

"Gerakan di jalanan dan dialog kebangsaan harus berjalan beriringan. Diskusi yang berbasis data dan analisis ilmiah menjadi penyeimbang agar gerakan mahasiswa tetap luhur, murni, terpercaya, dan mampu mengawal cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia," tutur Ivan.

Melalui dialog kebangsaan tersebut, para pemimpin organisasi mahasiswa di Bengkulu menyatakan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan publik. Mereka juga menegaskan gerakan mahasiswa harus tetap kritis, independen, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan rakyat serta kemajuan bangsa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....