Pengusaha Tempe di Bengkulu Kurangi Ukuran Produk

  • 10 Jun 2026 08:49 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil di Kota Bengkulu. Salah satu sektor yang terdampak adalah industri rumahan pengolahan tempe yang sangat bergantung pada pasokan kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi.

Kenaikan harga kedelai dalam beberapa waktu terakhir membuat biaya produksi meningkat. Untuk menyiasati kondisi tersebut, sebagian pengusaha tempe memilih mengurangi ukuran dan berat produk yang dijual daripada menaikkan harga secara langsung yang dikhawatirkan dapat mengurangi daya beli masyarakat.

Di salah satu sentra produksi tempe di kawasan Suka Merindu, Kota Bengkulu, aktivitas produksi masih berlangsung seperti biasa. Usaha milik Yuneni Wulandari tetap memproduksi puluhan kilogram tempe setiap hari untuk memenuhi permintaan pelanggan dan pedagang.

Sejak pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB, para pekerja sudah mulai menjalankan aktivitas produksi, puluhan kilogram kedelai dicuci menggunakan air bersih hingga beberapa kali untuk memastikan kualitas bahan baku tetap terjaga. Setelah dicuci dan dikeringkan, kedelai kemudian diproses lebih lanjut sebelum dikemas ke dalam plastik untuk difermentasi menjadi tempe.

Meski proses produksi berjalan normal, Yuneni mengaku harus menghadapi tantangan berupa kenaikan harga kedelai yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku tersebut berkaitan dengan kondisi pasar global serta pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Biasanya harga kedelai sekitar Rp800 ribu per karung, sekarang sudah mencapai Rp850 ribu per karung. Untuk mensiasati pemilik memiliki strategi masing-masing, ya kalau kami, terpaksa mengurangi ukuran saja” ujar Yuneni, Rabu 10 Juni 2026.

Ia menjelaskan, dalam beberapa pekan terakhir harga kedelai mengalami kenaikan antara Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per karung berisi 50 kilogram. Hingga saat ini, belum terlihat tanda-tanda harga akan kembali turun.

Kondisi tersebut membuat para pelaku usaha harus memutar otak agar usaha tetap berjalan dan pelanggan tidak beralih ke produk lain. Menurut Yuneni, menaikkan harga jual secara langsung bukanlah pilihan yang mudah karena sebagian besar konsumennya berasal dari kalangan masyarakat yang juga sedang menghadapi tekanan ekonomi.

Untuk pelanggan tetap yang membeli dalam jumlah besar, penyesuaian harga jual terpaksa dilakukan agar biaya produksi tetap tertutupi. Namun untuk penjualan eceran di pasar maupun warung, Yuneni memilih mengurangi ukuran dan berat tempe tanpa mengubah harga jual yang sudah dikenal konsumen.

Langkah tersebut dinilai lebih efektif untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan usaha. Meski keuntungan yang diperoleh menjadi lebih kecil, cara ini dianggap mampu menjaga jumlah pelanggan tetap stabil.

Pelaku usaha berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan pasokan kedelai impor tetap tersedia dengan harga yang terjangkau. Dengan demikian, usaha kecil seperti produksi tempe dapat terus bertahan dan memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga yang terlalu tinggi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....