TPID Bengkulu Perkuat Aksi 4K Kendalikan Inflasi
- 09 Jun 2026 14:18 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu memperkuat upaya pengendalian inflasi, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sektor tersebut diketahui menjadi penyumbang utama tekanan inflasi di wilayah tersebut pada Mei 2026.
Penguatan pengendalian inflasi dilakukan melalui implementasi strategis Aksi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah krusial tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu pada Selasa, 9 Juni 2026.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni bersama jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal. Kegiatan strategis tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat.
Dalam kesempatan itu, Herwan Antoni menegaskan bahwa kenaikan harga pangan harus menjadi perhatian bersama seluruh pihak. Hal ini menjadi alarm untuk memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan kebutuhan masyarakat.
"Kenaikan harga pangan harus disikapi dengan langkah-langkah strategis dan terukur," ujar Herwan Antoni dalam arahannya. Melalui Aksi 4K, pemerintah memastikan keterjangkauan harga, menjaga pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi efektif kepada publik.
Berdasarkan data terkini, angka inflasi tahunan (year on year/yoy) di Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 3,01 persen. Di sisi lain, terdapat empat daerah yang kini menjadi fokus utama pemantauan terkait perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH).
Empat wilayah fokus tersebut meliputi Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Bengkulu Selatan. Pemantauan intensif dilakukan terhadap 20 komoditas pangan strategis yang dinilai berpotensi kuat memengaruhi laju inflasi daerah.
Beberapa komoditas yang dipantau ketat di antaranya adalah bawang merah, cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawit hijau, serta cabai rawit merah. Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat turut memaparkan Ringkasan Eksekutif Inflasi Bengkulu.
Berdasarkan data BI, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,85 persen secara bulanan (month to month/mtm). Kelompok komoditas tersebut memberikan andil yang cukup besar terhadap total inflasi, yaitu mencapai 0,61 persen.
"Komoditas cabai merah menjadi pendorong utama inflasi dengan andil sebesar 0,43 persen, disusul minyak goreng sebesar 0,06 persen," kata Wahyu. Sementara itu, daging ayam ras justru menjadi komoditas penahan inflasi dengan kontribusi minus 0,11 persen.
Wahyu menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai merah dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan akibat dinamika cuaca yang ekstrem. Tingginya curah hujan di sentra hortikultura akhirnya berdampak pada penurunan kualitas serta volume hasil panen petani.
Di sisi lain, harga minyak goreng di pasaran meningkat akibat lonjakan harga bahan baku crude palm oil (CPO) di pasar global. Kenaikan harga tersebut juga dipicu oleh meningkatnya biaya operasional untuk distribusi dan pengemasan produk.
Sebaliknya, harga daging ayam ras di wilayah Bengkulu justru mengalami penurunan yang cukup signifikan. Tren penurunan ini terjadi seiring meningkatnya produksi, menurunnya biaya operasional peternak, serta bertambahnya pasokan dari luar daerah.
Dalam rapat tersebut juga dibahas berbagai langkah antisipatif, seperti pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah. Kegiatan tersebut berjalan sesuai petunjuk teknis Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) serta penguatan koordinasi antarinstansi.
Langkah mitigasi lainnya dilakukan melalui pemetaan komoditas penyumbang inflasi di masing-masing daerah kabupaten dan kota. TPID Provinsi Bengkulu berkomitmen terus meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, Bank Indonesia, Perum Bulog, serta para distributor.
Sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan ini dilakukan guna menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital juga mulai dioptimalkan untuk membantu memantau situasi di lapangan.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bengkulu Nelly Alesa mengungkapkan bahwa masyarakat kini bisa memantau harga secara mudah. Informasi harga komoditas secara real time dapat diakses langsung oleh publik melalui aplikasi Ben Connect.
Dengan sinergi yang kuat melalui Aksi 4K, inflasi di Provinsi Bengkulu diharapkan dapat tetap terkendali dengan baik. Melalui stabilitas harga tersebut, daya beli masyarakat Bengkulu diharapkan bisa terus terjaga secara berkelanjutan.
Rapat penting ini diakhiri dengan penandatanganan Berita Acara Rapat Koordinasi High Level Meeting TPID Provinsi Bengkulu. Prosesi penandatanganan ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....