BPS Bengkulu: Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Inflasi
- 03 Jun 2026 07:31 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang saat ini berada di kisaran Rp17.848 per dolar AS dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah maupun impor.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Win Rizal, mengatakan komoditas hortikultura menjadi salah satu sektor yang rentan mengalami kenaikan harga ketika pasokan dari daerah penghasil terganggu. Faktor cuaca yang memengaruhi produksi juga dapat memperbesar risiko kenaikan harga di tingkat konsumen.
Menurut Win, Bengkulu memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar daerah dengan memperkuat produksi lokal. Wilayah seperti Rejang Lebong dan Kepahiang dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas hortikultura.
"Hortikultura sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan di wilayah seperti Rejang Lebong dan Kepahiang. Upaya peningkatan produksi lokal perlu terus dilakukan agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari daerah sendiri," ujar Win Rizal saat diwawancarai di Kantor BPS Provinsi Bengkulu, Selasa (2/6/2026).
Selain faktor pasokan, Win menjelaskan bahwa inflasi juga dapat dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang termasuk kategori administered price atau harga yang diatur pemerintah. Kenaikan BBM berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan transportasi yang pada akhirnya berdampak pada harga barang di pasaran.
"Dalam perdagangan terdapat komponen biaya distribusi dan transportasi. Ketika biaya angkut meningkat, harga barang juga cenderung ikut naik," ujarnya. Dampak tersebut akan semakin terasa apabila terjadi pelemahan nilai tukar rupiah yang menyebabkan harga barang impor menjadi lebih mahal.
Win mencontohkan komoditas seperti kedelai dan gandum yang hingga kini masih bergantung pada impor sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Ia menilai pemerintah perlu terus mendorong peningkatan produksi pangan dalam negeri, termasuk padi, jagung, dan kedelai, guna memperkuat ketahanan pangan serta menjaga stabilitas harga.
"Kalau nilai rupiah melemah, harga barang impor otomatis menjadi lebih mahal. Yang perlu dijaga adalah agar harga tidak naik-turun secara ekstrem karena stabilitas harga sangat penting bagi masyarakat maupun pelaku usaha dalam merencanakan kegiatan ekonomi," ujar Win. Sebagai informasi, pada Mei 2026 Provinsi Bengkulu mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,01 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,41, sementara inflasi bulanan (month-to-month) tercatat 0,86 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date) sebesar 1,39 persen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....