Beras Talang Benih Curup Hadapi Persaingan Komoditas

  • 24 Mei 2026 09:25 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Rejang Lebong - Koperasi Unit Desa (KUD) Mulya Usaha di Kelurahan Talang Benih, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, saat ini menghadapi perlambatan penjualan beras lokal khas daerah setempat. Kondisi tersebut terjadi akibat meningkatnya persaingan dengan beras pasokan dari luar daerah yang membanjiri pasar tradisional di wilayah itu.

Ketua KUD Mulya Usaha, Iswadi, mengatakan penjualan beras lokal mulai tersendat sejak awal tahun hingga Mei 2026. Menurut dia, melimpahnya pasokan beras dari luar daerah membuat daya serap pasar terhadap hasil panen petani lokal menjadi menurun.

Ia menjelaskan, saat ini stok beras Talang Benih yang tersimpan di gudang koperasi mencapai sekitar 1.200 kaleng atau setara lebih dari 19 ton. Jumlah persediaan tersebut diperkirakan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama tiga bulan ke depan.

Melimpahnya stok beras lokal sebenarnya menunjukkan hasil produksi petani di wilayah Rejang Lebong masih cukup baik pada musim panen tahun ini. Namun, kondisi itu belum diimbangi dengan tingginya permintaan pasar sehingga perputaran penjualan berjalan lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pasar Curup yang menjadi pusat perdagangan utama di Kabupaten Rejang Lebong disebut menjadi titik masuk utama beras dari luar daerah. Kehadiran produk beras luar dengan jumlah besar membuat beras lokal Talang Benih semakin sulit bersaing, terutama dari sisi harga dan distribusi.

Di sisi lain, sebagian masyarakat mengaku tetap memilih beras lokal karena dinilai memiliki cita rasa yang lebih khas dan cocok untuk konsumsi sehari-hari. Salah seorang warga Curup, Rahma mengatakan dirinya lebih menyukai beras lokal dibandingkan beras premium dari luar daerah.

“Kalau beras lokal rasanya lebih pulen dan aromanya juga lebih enak saat dimasak. Selain itu, saya merasa dengan membeli beras lokal berarti ikut membantu petani di daerah sendiri,” ujar Rahma, 24 Mei 2026.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap pendapatan petani dan keberlangsungan usaha koperasi di daerah itu. Jika penjualan terus melambat, maka stok beras lokal yang tersimpan di gudang diperkirakan akan semakin menumpuk dalam beberapa bulan mendatang.

Pihak KUD berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan penggunaan beras lokal hasil produksi petani Rejang Lebong. Upaya tersebut dinilai penting agar keberadaan beras khas Talang Benih tetap mampu bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....