Kedurei Sudut, Upacara Adat jelang HUT Kabupaten Rejang Lebong

  • 24 Mei 2026 08:58 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Rejang Lebong - Keoulan asap dan wangi khas kemenyan menyelimuti halaman rumah dinas bupati saat ritual adat Kedurei Sudut digelar sebagai pembuka Hari Ulang Tahun Kota Curup ke-146, Sabtu sore 23 Mei 2026. Suasana khidmat langsung terasa ketika doa-doa adat dilantunkan di hadapan jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan pemangku adat Rejang Lebong.

Tradisi sakral masyarakat Rejang itu dipimpin Ketua Badan Musyawarah Adat Rejang Lebong, Ahmad Faizir, dengan tata cara adat dipandu piawang adat Syafri. Prosesi berlangsung penuh penghormatan karena ritual tersebut diyakini sebagai simbol penyucian diri sekaligus permohonan keselamatan bagi daerah dan masyarakat.

Plt Bupati Rejang Lebong, Hendri, menjadi tokoh utama dalam rangkaian adat tersebut. Air setawar sedingin dipercikkan ke kepala, tangan, dan kaki Hendri sebelum selendang songket disematkan di bahunya sebagai lambang restu adat dan kehormatan.

Hendri tampak terharu mengikuti setiap tahapan ritual yang sarat makna spiritual itu. Ia mengaku aroma kemenyan yang tercium membangkitkan kenangan masa kecil karena neneknya dahulu juga kerap menjalankan prosesi serupa.

Menurut Hendri, Kedurei Sudut bukan sekadar seremoni pembukaan perayaan daerah semata. Tradisi itu dinilai menjadi pengingat bahwa identitas masyarakat Rejang Lebong bertumpu kuat pada nilai budaya dan adat leluhur.

Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, lanjut Hendri, berkomitmen menjaga keberlangsungan budaya lokal melalui penguatan lembaga adat dan dukungan terhadap kegiatan budaya masyarakat. Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Faizir turut mengungkap garis keturunan Plt Bupati Hendri yang disebut masih memiliki hubungan darah dengan Pangeran Egok atau Pangeran Mangku Negeri. Tokoh tersebut dikenal sebagai pemimpin berpengaruh di wilayah Sindang Kelingi dan Lembak pada masa lampau.

Pangeran Egok tercatat sebagai figur penting dalam sejarah masyarakat Rejang karena berhasil memadukan hukum adat dengan nilai-nilai Islam. Kepemimpinannya juga dikenal melalui filosofi Batu Tri Sakti yang menjadi simbol persatuan adat, pemerintahan, dan norma kehidupan masyarakat.

Badan Musyawarah Adat bahkan berencana memberikan gelar adat kepada Hendri beserta istrinya pada akhir tahun 2026 mendatang. Rencana tersebut disebut sebagai bentuk penghormatan terhadap garis keturunan dan kedekatan Hendri dengan budaya Rejang.

Piawang adat Syafri menjelaskan bahwa perlengkapan ritual Kedurei Sudut memiliki makna simbolik yang mendalam. Tradisi itu menggunakan tiga ayam sila, empat jenis bubur, sirih, telur ayam, hingga ruas bambu gaing berisi air kelapa sebagai bagian dari perangkat adat.

Prosesi tersebut juga memakai sembilan jenis air yang diambil dari sembilan sungai berbeda di wilayah Rejang Lebong. Air-air itu dipercaya melambangkan persatuan, keselamatan, dan harapan agar seluruh rangkaian HUT Kota Curup berjalan lancar tanpa hambatan.

Rangkaian ritual kemudian ditutup dengan makan bersama antara pejabat daerah, tokoh adat, dan masyarakat yang hadir. Meski asap kemenyan perlahan menghilang, pesan pelestarian budaya yang dibawa Kedurei Sudut tetap meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....