Kenaikan Harga Plastik Picu Kekhawatiran Inflasi di Bengkulu

  • 15 Mei 2026 19:47 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Pemerintah Provinsi Bengkulu masih mencermati kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dipicu oleh dinamika global, termasuk ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada rantai pasok.

Kenaikan harga plastik dinilai berpotensi memicu inflasi daerah jika tidak segera diantisipasi. Pasalnya, plastik masih menjadi bahan utama dalam proses pengemasan berbagai produk kebutuhan masyarakat.

Lonjakan harga tersebut juga berdampak langsung terhadap harga bahan pangan dan produk usaha kecil. Banyak pelaku usaha masih bergantung pada kemasan plastik dalam kegiatan produksinya.

Peningkatan biaya produksi dan pengemasan diperkirakan akan memengaruhi harga jual di pasaran. Hal ini pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan angka inflasi di daerah.

Asisten II Setda Provinsi Bengkulu, R.A. Denni, menyampaikan bahwa inflasi Bengkulu saat ini masih berada di level 1,87 persen. Pemerintah berharap angka tersebut tetap stabil meskipun terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas pendukung usaha.

Ia juga mengimbau para pelaku usaha dan pedagang untuk mulai mencari alternatif kemasan yang lebih efisien. Selain itu, penggunaan bahan ramah lingkungan dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang.

Diketahui, sejumlah jenis plastik mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Di antaranya plastik HD naik dari Rp30 ribu menjadi Rp43 ribu per ikat, plastik PE dari Rp30 ribu menjadi Rp47 ribu, plastik PP dari Rp30 ribu menjadi Rp50 ribu, plastik SP ungu dari Rp25 ribu menjadi Rp30 ribu, serta styrofoam nasi dari Rp46 ribu menjadi Rp65 ribu per ikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....