PUPA Soroti Lemahnya Perlindungan Anak di Sekolah
- 05 Feb 2026 19:04 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu – Direktur Yayasan Pusat Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Bengkulu, Susi Handayani, merespons serius dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswi kelas X di salah satu SMA negeri di Kota Bengkulu. Ia menilai kasus ini menunjukkan masih lemahnya sistem perlindungan anak di lingkungan sekolah, baik dari sisi pencegahan maupun penanganan ketika kekerasan terjadi.
Susi menyebut ada beberapa persoalan mendasar yang memperparah situasi tersebut. Diantaranya, peserta didik belum memahami ke mana harus melapor ketika melihat atau mengetahui adanya kekerasan di sekolah.
Selain itu, banyak siswa juga tidak menyadari bahwa penganiayaan merupakan pelanggaran pidana yang memiliki sanksi hukum. Kondisi ini diperparah dengan dihapusnya Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023, sehingga sekolah tidak lagi memiliki Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK).
Sementara itu, mekanisme rujukan ke Kelompok Kerja (Pokja) di tingkat pemerintah daerah belum berjalan karena Pokja belum terbentuk. Hal ini berdampak pada minimnya perlindungan anak di sekolah.
Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dengan membentuk Pokja perlindungan anak, memperjelas mekanisme pelaporan kekerasan di sekolah, serta memastikan adanya pendampingan psikologis bagi korban. Menurutnya, negara tidak boleh abai terhadap keselamatan dan kesehatan mental peserta didik, terutama korban kekerasan.
"Pemda provinsi yang harus segera membentuk Pokja Pencegahan dan Penanganan Kekerasan. Mandat Permendikdasmen no 6 tahun 2026 paling lambat 9 Juli 2026 harus terbentuk," kata Susi, Kamis,5 Februari 2026.
Dugaan pengeroyokan tersebut terjadi pada Rabu (5/2/2026), bertepatan dengan jam pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG). Korban dilaporkan pingsan, mengalami luka fisik, dan trauma psikologis berat hingga menolak kembali bersekolah.
Informasi awal diterima ibu korban berinisial MY dari pihak sekolah yang menyebut anaknya pingsan setelah terlibat insiden dengan kakak kelas dan sempat mendapatkan penanganan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Saat mendatangi sekolah, MY mendapati kondisi anaknya masih lemah, syok, serta mengalami sejumlah luka di tubuh.
Korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Bengkulu untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bekas gigitan, cakaran, serta memar di beberapa bagian tubuh.
Keluarga menyebut dampak psikologis korban menjadi perhatian utama karena korban mengalami trauma mendalam, ketakutan berlebihan, dan menolak kembali ke sekolah. Berdasarkan keterangan keluarga, insiden bermula dari perselisihan pertemanan yang berlanjut ke media sosial hingga terjadi adu argumen.
Berdasarkan rekaman CCTV dan video yang diterima keluarga, di depan ruang kelas korban terjadi adu mulut cukup lama sebelum diduga berujung pada kontak fisik yang melibatkan beberapa kakak kelas. Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pengeroyokan tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....