Imunisasi HPV Sekolah Upaya Lindungi Generasi Perempuan Bengkulu

  • 21 Jan 2026 13:42 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Program vaksinasi kanker serviks atau Human Papillomavirus (HPV) untuk anak sekolah di Provinsi Bengkulu telah resmi berjalan dan menjadi bagian dari program imunisasi nasional. Vaksin ini bertujuan untuk mencegah kanker serviks serta penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi HPV.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Dr. drg. H. Edriwan Mansyur, MM, menjelaskan vaksin HPV merupakan langkah pencegahan jangka panjang agar perempuan terhindar dari risiko kanker serviks di kemudian hari.

“Vaksin ini tujuannya untuk mencegah jangan sampai terjadi kanker serviks dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan kanker. Ini sifatnya pencegahan, bukan pengobatan,” ujar Edriwan.

Ia menyebutkan, pelaksanaan vaksin HPV di sekolah-sekolah digabungkan dengan program nasional Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dan diberikan secara gratis oleh pemerintah.

“Program ini memang sudah berjalan secara nasional dan digabungkan dengan imunisasi BIAS. Karena ini imunisasi pencegahan, maka diberikan secara gratis,” jelasnya.

“Ini salah satu bentuk kepedulian bersama agar jangan sampai terjadi penyakit seperti kanker serviks dan kanker rahim. Intinya adalah pencegahan,” tambah Edriwan.

Menurutnya, jika vaksin HPV dilakukan secara mandiri atau pribadi, biayanya tergolong mahal, bahkan bisa mencapai Rp900 ribu hingga Rp1 juta dengan pemberian tiga dosis.

“Dosisnya tiga kali, hari ini, dua bulan lagi, dan enam bulan lagi. Kalau secara pribadi biayanya mahal, tapi melalui kegiatan ini masyarakat cukup membayar Rp250 ribu dan langsung diminati. Hari ini saja sudah 150 orang yang ikut,” ungkapnya.

Untuk pelaksanaan di sekolah, Edriwan menegaskan vaksinasi dilakukan dengan pendampingan penuh oleh tenaga kesehatan serta koordinasi dengan pihak sekolah dan orang tua.

“Pelaksanaannya pasti didampingi petugas kesehatan. Sekolah, orang tua, dan murid harus diberi penjelasan terlebih dahulu. Orang tua juga diberikan informed consent, terutama untuk remaja putri usia 11–12 tahun,” katanya.

Ia menambahkan, meski vaksin HPV merupakan program nasional, komunikasi yang baik tetap menjadi kunci keberhasilan di lapangan.

“Programnya baik, tapi kalau tidak dikomunikasikan dengan baik bisa menimbulkan masalah. Karena itu pihak sekolah harus mendukung dan menyukseskan program ini demi melindungi anak-anak kita,” pungkas Edriwan.

Sebagai informasi, vaksin HPV kini menjadi bagian dari program imunisasi nasional dan telah digratiskan untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 SD serta remaja perempuan usia 15 tahun. Pemerintah juga merencanakan perluasan vaksin HPV gratis untuk usia di atas 20 tahun mulai tahun 2027 mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....