Maggot BSF, Solusi Pakan Ternak dan Pengurai Sampah

  • 05 Okt 2025 17:03 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Lalat merupakan serangga yang memiliki banyak jenis, salah satunya adalah lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF) yang justru bermanfaat bagi lingkungan. Lalat ini menghasilkan telur yang menetas menjadi larva kecil berwarna krem kehitaman yang disebut maggot, maggot ini berfungsi mempercepat penguraian limbah organik, dengan cara memakan sisa makanan, sayur, dan buah, lalu mengubahnya menjadi biomassa bernutrisi tinggi serta sisa kotoran yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dikelola oleh Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRNP) Bengkulu kini menjadi salah satu solusi alternatif untuk kebutuhan pakan ternak. Selain itu, maggot juga berperan penting sebagai pengurai limbah organik yang ramah lingkungan.

Heryan Iswadi, penyuluh pertanian sekaligus Koordinator Pakan Alternatif Maggot BSF dan Azolla, menjelaskan bahwa usaha ini telah berjalan sekitar empat tahun. Menurutnya, budidaya maggot cukup menjanjikan karena memiliki siklus hidup yang singkat, hanya berkisar 40–43 hari sehingga dalam kurun waktu tersebut maggot sudah bisa dipanen dan dimanfaatkan.

“Budidaya maggot ini siklusnya hanya 40–43 hari, dan manfaatnya besar, baik untuk pakan ternak maupun lingkungan. Dengan waktu yang relatif singkat, peternak bisa mendapatkan hasil yang berlipat ganda,” ujarnya (4/10/25)

Maggot BSF terbukti dapat digunakan sebagai pakan tambahan bagi berbagai jenis hewan ternak, seperti ayam, bebek, dan ikan. Bahkan, hewan peliharaan seperti kucing juga bisa diberikan pakan maggot sebagai sumber protein alternatif.

Selain itu, hasil sampingannya dari budidaya maggot ini berupa kasgot (kotoran maggot) yang tidak kalah bermanfaat. Kasgot dapat digunakan sebagai pupuk organik yang langsung siap pakai, tanpa melalui proses pengomposan panjang sebagaimana pupuk kandang konvensional.

“Kalau pupuk kandang harus dimatangkan dulu, kalau kasgot bisa langsung dipakai untuk media tanam. Inilah yang membuat banyak warga maupun petani di sekitar sini memilih kasgot ini karena lebih praktis dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk di pakai,” ucapnya.

Dari sisi produksi, budidaya ini mampu menghasilkan sekitar 10–20 kilogram maggot segar setiap minggu.Produk tersebut kemudian dipasarkan secara daring melalui berbagai platform marketplace.

Untuk harga, maggot segar dipatok Rp10 ribu per kilogram. Sementara itu, maggot kering memiliki nilai jual lebih tinggi, yakni berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, Adapun maggot hitam atau pre-pupa bahkan dihargai lebih mahal lagi, sekitar Rp30 ribu per kilogram, karena bisa dijadikan indukan.

Selain memberikan manfaat ekonomi bagi para peternak, keberadaan maggot juga berperan penting dalam mengurai sampah organik. Dengan kemampuan mengurai limbah rumah tangga secara cepat, budidaya maggot diyakini dapat membantu mengurangi volume sampah di Kota Bengkulu.

Heryan menegaskan, jika budidaya maggot ini diperluas hingga ke tingkat RT, maka permasalahan penumpukan sampah dapat ditekan secara signifikan. Harapannya, upaya ini tidak hanya menjadi solusi bagi kebutuhan pakan ternak, tetapi juga mampu menjawab persoalan lingkungan yang selama ini dihadapi masyarakat Bengkulu. (Dlvia)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....