Kerajinan Anyaman Tradisional Tetap Bertahan di Era Modern

  • 02 Okt 2025 08:27 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Kerajinan anyaman tradisional tetap bertahan di tengah maraknya produk modern yang serba praktis. Hingga kini, kerajinan ini masih menjadi sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat di Bengkulu. Keberadaan anyaman tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mencerminkan identitas serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Bahan utama yang digunakan adalah bambu dan rotan, ditambah pewarna alami dari daun salam yang diperoleh dari kebun sekitar. Dari bahan-bahan tersebut, terciptalah beragam kerajinan seperti tikar, teleng, hingga bakul yang biasa dipakai masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Salah seorang pengrajin anyaman, Della, mengatakan bahwa tikar, bakul, hingga teleng biasanya dapat diselesaikan dalam waktu satu hari satu malam. Hasil kerajinan ini umumnya dijual langsung kepada masyarakat sekitar dan juga melalui media sosial. Harga anyaman tersebut berkisar antara Rp30.000 hingga Rp65.000, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.

“Lama pembuatan tikar dengan tampah atau teleng itu sekitar satu hari satu malam. Harga masing-masing anyamannya mulai dari Rp35 ribu sampai Rp50 ribu, ada juga seperti tikar yang bisa mencapai Rp65 ribu,” ucapnya.

Tantangan yang dihadapi para pengrajin adalah semakin sulitnya mencari bahan baku untuk anyaman. Kondisi ini membuat proses produksi terkadang terhambat karena pengrajin harus menunggu ketersediaan bahan.

Harapannya, kerajinan anyaman tradisional bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat. Dengan begitu, usaha ini dapat terus berkembang, memberi manfaat ekonomi bagi pengrajin sekaligus melestarikan warisan budaya lokal. (Dellia).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....