Seni Beladiri Kuntau Semende yang Terancam Punah

  • 23 Feb 2023 20:49 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Salah satu seni beladiri yang merupakan seni khas masyarakat Semende adalah Kuntau. Seni beladiri dengan pisau dua, lading dua, toya atau trisula banyak digeluti oleh masyarakat di sekitar Padang Guci, Kedurang dan Kinal kabupaten Kaur.

Namun kini seni beladiri itu jarang lagi terlihat, bahkan di daerah asalnya sendiri. Afrizal Taswanda pegiat seni beladiri Kuntau mengatakan seni Kuntau kini jarang terlihat karena memang tak ada lagi penerusnya.

Di daerah asalnya kesenian ini tidak lagi tampil karena kekhawatiran pelaku seni beladiri Kuntau melakukan tindak kejahatan dengan kemampuan beladirinya. Ia mengaku cukup menyayangkan pemikiran tersebut, karena seni beladiri Kuntau harusnya tetap dilestarikan ditengah gempuran budaya luar yang mengikis kearifan lokal di daerah.

Jika awalnya seni beladiri ini muncul sebagai salah satu teknik berkelahi atau teknik perang dengan senjata tajam, harusnya kini di lestarikan dengan perspektif berbeda. Ia menyebut seni beladiri Kuntau saat ini bisa tetap dilestarikan sebagai seni pertunjukan biasa.

Hal itu karena beladiri ini tidak tampak terlalu keras seperti beladiri lain, melainkan tampak lembut dan mengikuti irama musik khusus. Hal itu jika dilestarikan lagi akan sangat menarik karena beladiri Kuntau tampak seperti tarian dengan senjata.

"di dusun kami malah dak nampak lagi, karena tidak diajarkan ke anak anak lagi. Harusnya diajari tapi untuk pertunjukan saja, penampilan, bukan untuk membunuh" ujarnya.

Awal mula Kuntau berasal menurut kabar memang berasal dari zaman dahulu yang berkaitan dengan bangsa Tionghoa. Nama Kuntau disebut berkaitan dengan bahasa Mandarin Kun dan Tao yang artinya seni dalam berperang.

Kesenian ini memang awalnya merupakan seni beladiri yang mematikan, gerakan yang tampak lembut namun sesungguhnya memiliki tenaga yang kuat. Ia mengatakan kini tak ada lagi ruang untuk menampilkan seni beladiri Kuntau.

Ia mengaku hanya menurunkan seni beladiri kepada anak anak laki-lakinya yang sesekali ditampilan saat acara tradisi atau penampilan seni di sekolah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....