Ojek Pangkalan, Bertahan Diantara Gempuran

  • 14 Feb 2025 15:14 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Di era modern yang serba cepat sekarang, keberadaan ojek pangkalan(opang) menjadi sebuah ironi, akan tetapi dilain sisi, mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah transportasi perkotaan di Indonesia, terkhususnya di kota Bengkulu. Opang, yang merupakan sistem transportasi tradisional, para pengemudi yang menunggu penumpang di titik-titik strategis seperti,terminal, stasiun dan tempat-tempat tertentu lainnya.

Soumin, seorang tukang ojek di pasar Panorama yang telah berkerja selama 29 tahun dari tahun 1996. Sampai sekarang masih tetap konsisten dalam menjalankan profesinya.

"Dari dulu dengan kini tu boleh di kecekkan agak nurun dibandingkan dengan dulu,Jak di sini(panorama)ke danau dendam tak sudah tu dulu 5ribu rupiah,tapi sekarang 10 ribu, perbanding dengan hargo minyak,minyak dulu tu cuman sekitaran 250. Nah kalu penumpang ini Idak nentu, kadang-kadang rami kadang-kadang sepi, oleh karnokan kalah dengan ojek online," Ujar Soumin(14/02/2025).

Meskipun demikian Soumin, seorang tukang ojek yang masih tetap berjuang dan bertahan dengan pekerjaannya. Ditambah lagi beberapa kendala dan tantangan yang ada di era sekarang dan di tengah gempuran layanan ojek online(ojol) yang menawarkan kemudahan dengan harga yang kompetitif.

"Kalo kendala boleh dikecekkan enggak ada, paling ado razia-razia itu emang biaso tergantung dari surat-surat motor. Kalu pendapatan nah itu tadi apo lagi kini hari sepi,tapi paling Idak satu hari tu 30ribu," Kata soumin(14/02/2025).

Saat ini hanya beberapa orang saja yang masih menjadi opang dan masih mangkal di pasar panorama ini khususnya. Sebagian lagi sudah mulai menggunakan aplikasi dan beralih menjadi ojol. (Yoga)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....