Opoi Sambang, Tradisi Suku Rejang Malam 27 Ramadan
- 17 Mar 2026 17:56 WIB
- Bengkulu
RRI.CI.ID, Bengkulu Utara – Menjelang hari raya Idul Fitri suasa berbeda akan terasa ketika melintas di jalur Kota Bengkulu menuju Kota Arga Makmur, salah satunya di Desa Sawang Lebar, Kecamatan Tanjung Agung Palik Kabupaten Bengkuku Utara. Tampak masyarakat kususnya anak-anak tengah sibuk memasang batok kelapa dihalaman rumahnya.
Salah seorang tokoh adat di Bengkulu Utara Absir menjelaskan yang dilakukan oleh anak-anak dan masyarakat di Desa Sawang Lebar merupakan tradisi leluhur Suku Rejang, yang di beri nama Opoi Sambang. Opoi Sambang merupakan sebuah tadisi yang selalu dilaksanakan oleh Suku Rejang di Kabupaten Bengkulu Utara, setiap memasuki malam ke 27 Ramadhan.
“Ya memang pemandanngan seperti ini akan kita lihat di sepanjang jalan di Bengkulu Utara, biasanya memang di lakukan pada malam ke 27 Ramadhan. Ini adalah tradisi Suku Rejang di Bengkulu Utara, namanya adalah Opoi Sambang,” kata Absir.
Absir menjelaskan Opoi Sambang merupakan batok kelapa atau dalam bahasa rejang disebut dengan sayak yang disusun dengan penyangga kayu hingga tinggi. Kemudian setelah disusun hingga tinggi pada malam harinya akan dibakar.
Masyarakat mempercayai, bahwa pada malam ke 27 Ramadhan arwah keluarga yang telah meninggal akan kembali ke rumah-rumah. Sehingga di pasanglah Opoi Sambang sebagai penerangan jalan bagi arwah tersebut agar tidak salah jalan pulang.
“Jadi Opoi Sambang ini dianggap tanda atau petunjuk arah agar arwah itu tidak salah jalan . Makanya mulai dari pintu pagar ada Opoi Sambang kemudian di tangga nanti ada obor-obor kecil juga, ” ujarnya.

Biasanya menyalakan Opoi Sambang akan berlangsung hingga malam takbiran. Hal ini lah yang membuat suasana desa pada malam hari terlihat lebih meriah dan terang.
Salah seorang warga Bengkulu Utara Yanti mengaku saat ini sudah tidak banyak lagi masyarakat yang menyalakan Opoi Sambang seperti dulu. Hal ini sangat disayangkan karena jika terus dilestarikan tradisi menyalakan Opoi Sambang akan menjadi identitas dan cirikhas tersendiri bagi Suku Rejang saat bulan Suci Ramadhan.
“Saya sangat ingat dulu itu kalau sudah melihat opoi sambang rasanya itu lebaran seperti sudah dekat sekali. Terus kalau dulu itu dari Kerkap, Lais, Tanjung Agung Palik, bahkan di dusun yang di Kecamatan Arga Makmur pasti memasang Opoi Sambang jadi suasana malam jelang lebarang itu terasa terang dan meriah,” Ujar Yanti.
Dalam hal ini masyarakat Suku Rejang dan Pemerintah Bengkulu Utara diharapkan diharapkan dapat berperan aktif dalam melestarikan trasidi Opoi Sambang. Sehingga kedepanya Opoi Sambang tidak punah ditelan oleh zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....