Cerita Mahasiswa Bengkulu yang Berpuasa di Kairo Mesir

  • 02 Mar 2026 13:33 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Kairo - Ramadan di Mesir menghadirkan suasana yang khas dengan ritme kehidupan yang berubah signifikan. Pada siang hari, aktivitas di kota-kota besar seperti Kairo melambat, dengan banyak toko tutup dan jalanan tampak lebih lengang.

Kondisi tersebut berubah ketika azan Maghrib berkumandang dan waktu berbuka puasa tiba, kota kembali hidup dengan aktivitas masyarakat yang memenuhi kafe, masjid, dan ruang publik hingga menjelang sahur. “Ritme Ramadan di Mesir dan Indonesia memang berbeda, siang hari di Mesir terasa lebih sepi karena banyak toko tutup, tetapi selepas Maghrib suasana langsung ramai dengan masjid penuh jamaah, kafe yang hidup, serta salat Tarawih yang khidmat di masjid besar seperti Al-Azhar,” ujar Nasywa.

Waktu berbuka puasa di Mesir juga berbeda tergantung musim yang sedang berlangsung. Pada musim dingin, waktu berbuka biasanya sekitar pukul 18.00, sementara pada musim panas dapat berlangsung hingga pukul 20.00 waktu setempat.

Suasana malam Ramadan di Mesir tidak hanya diisi dengan aktivitas sosial, tetapi juga kegiatan ibadah yang berlangsung hampir sepanjang malam. Perpaduan antara silaturahmi dan ibadah menjadikan malam Ramadan terasa semarak dan bermakna bagi masyarakat setempat.

Waktu sahur di Mesir relatif tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Umumnya, masyarakat dan mahasiswa menjalani sahur sekitar pukul 03.00 dini hari.

Masjid Al-Azhar di Kairo menjadi salah satu pusat ibadah yang ramai dikunjungi selama Ramadan. Salat Tarawih di masjid ini berlangsung khidmat dengan lantunan ayat suci yang panjang dan tertil.

Nasywa, mahasiswa Universitas Al-Azhar asal Provinsi Bengkulu, Indonesia, mengungkapkan kekhusyukan ibadah di Masjid Al-Azhar. Ia menyebut jamaah dari berbagai negara memenuhi saf-saf salat dan menciptakan suasana spiritual yang mendalam.

Perbedaan budaya Ramadan juga terlihat dari menu berbuka puasa. Jika di Indonesia identik dengan es teh manis dan gorengan, di Mesir berbuka diawali dengan kurma dan air putih.

Hidangan berbuka di Mesir umumnya sederhana dengan dominasi roti dan makanan bercita rasa ringan. Namun, makanan manis seperti kunafa menjadi salah satu hidangan favorit masyarakat Mesir saat berbuka puasa di bulan Ramadan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa Indonesia yang terbiasa dengan bumbu rempah yang kuat. Meski demikian, mereka perlahan menyesuaikan diri dengan pola makan setempat selama menjalani ibadah puasa.

Tradisi berbagi di Mesir terasa kuat melalui kegiatan Maidatur Rahman, meja-meja panjang disediakan di pinggir jalan untuk berbuka puasa gratis bagi siapa saja yang melintas."Tradisi Maidatur Rahman ini sangat meriah dan menyentuh, memperlihatkan betapa dermawannya masyarakat di sini dalam menjamu tamu Allah," ujar Nasywa.

Nuansa Ramadan di Mesir juga diperindah dengan hiasan Fanous atau lentera khas. Lentera-lentera ini menghiasi rumah, toko, dan jalanan sebagai simbol datangnya bulan suci.

Berbeda dengan Mesir, Ramadan di Indonesia lebih menonjolkan kegiatan berbasis komunitas di masjid dan lingkungan sekitar. Meski berbeda bentuk, keduanya sama-sama membangun suasana religius dan kebersamaan.

Bagi mahasiswa Indonesia di Mesir, kerinduan akan kampung halaman kerap terasa saat waktu berbuka. Untuk mengobatinya, mereka berkumpul dan memasak makanan khas Indonesia secara sederhana.

Keberadaan penjual makanan Indonesia seperti nasi putih dan gorengan di Kairo menjadi pelepas rindu bagi mahasiswa perantau. Makanan tersebut menghadirkan cita rasa tanah air di tengah kehidupan luar negeri.

Kebersamaan antarmahasiswa Indonesia di Mesir menjadi penguat secara emosional selama Ramadan. Aktivitas memasak dan berbagi makanan menjadi cara mereka menciptakan rasa kekeluargaan.

Nasywa membandingkan suasana Ramadan di Indonesia dan Mesir dari sisi kehangatan dan aktivitas ibadah. "Ramadan di Indonesia itu lebih hangat dan kekeluargaannya lebih jauh terasa, sementara di Mesir, Ramadan terasa ramai dan fokus terhadap ibadah sepanjang malam," ucapnya.

Pada akhirnya, Ramadan di Indonesia maupun Mesir memiliki makna yang sama sebagai bulan peningkatan ibadah. Perbedaan tradisi justru memperkaya pengalaman umat Muslim di berbagai belahan dunia. (i.pam)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....