Ramadan dan Cerita Berburu Takjil

  • 20 Feb 2026 07:42 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Bulan Ramadan selalu membawa cerita yang berbeda setiap tahunnya. Bulan yang dianggap suci oleh umat Muslim ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kebahagiaan, kebersamaan, dan semangat berbagi yang terasa begitu kuat.

Di Kota Bengkulu, Ramadan hadir dengan suasana yang khas, sejak hari pertama puasa, berbagai rangkaian ibadah mulai menggema. Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang melaksanakan salat tarawih, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sudut, dan semangat bersedekah semakin meningkat.

Selain berpuasa, umat Muslim dianjurkan memperbanyak amalan baik seperti membaca Al-Qur’an, salat sunah, hingga berbagi kepada sesama. Namun cerita Ramadan tidak berhenti pada ibadah saja, ada satu tradisi yang selalu dinantikan dan dirindukan setiap tahunnya, yakni berburu takjil.

Ya, berburu takjil memang bukan bagian dari ibadah, tetapi sudah menjadi kebiasaan yang melekat di tengah masyarakat. Kegiatan ini menjadi salah satu cara mengisi waktu menjelang berbuka atau yang biasa disebut ngabuburit, sore hari menjelang magrib, warga berbondong-bondong keluar rumah, mencari hidangan untuk berbuka puasa.

Di berbagai sudut Kota Bengkulu, pemandangan ini begitu terasa, lapak-lapak dadakan bermunculan. Jalanan yang biasanya lengang, mendadak ramai oleh pembeli dan pedagang yang saling berinteraksi dengan penuh kehangatan.

Salah satu kawasan yang selalu ramai setiap Ramadan adalah Jalan Samsul Bahrun, Kelurahan Bentiring, Kota Bengkulu, di kawasan ini, setiap tahun warga, khususnya masyarakat sekitar, memadati deretan pedagang takjil. Berbagai jenis makanan dan minuman tersaji lengkap, mulai dari kue-kue khas Ramadan, aneka gorengan hangat, kolak pisang yang manis, es buah yang segar, hingga sayur matang untuk lauk berbuka.

Pembeli hanya perlu menyiapkan uang, lalu memilih sesuai selera. Tidak jarang, mereka berkeliling lebih dulu, memastikan pilihan terbaik sebelum akhirnya memutuskan membeli.

Salah seorang warga, Nitalia Sari, mengaku hampir setiap tahun ia selalu berburu takjil. Kegiatan ini ia nilai sebagai kegiatan tahunan yang sanggat dinantikan.

“Selain praktis, ini juga cara supaya waktu menunggu berbuka tidak terasa lama. Kalau kita dirumah saja pasti bosan dan waktu berbuka terasa sanggat lama” ujarnya.

Bagi Nitalia, berburu takjil bukan sekadar membeli makanan, namun ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan. Ramadan menjadi momen langka di mana seluruh anggota keluarga bisa berkumpul di rumah untuk berbuka bersama.

“Ini bukan cuma tradisi biasa, tapi kebahagiaan yang tidak bisa dinilai. Karena Ramadan, keluarga bisa lebih sering kumpul,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan Iyud Forniati, seorang perantau yang tinggal di Bengkulu, ia mengaku sangat menantikan momen berburu takjil setiap Ramadan. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal kebersamaan.

“Biasanya saya dan teman-teman janjian sore-sore. Sambil beli takjil, kami ngobrol, bercanda, jadi waktu terasa cepat sampai azan magrib,” katanya.

Di balik keramaian pembeli, ada cerita lain yang tak kalah penting, yakni berkah ekonomi dari ramadan ini. Ramadan menjadi momentum perputaran ekonomi masyarakat, banyak warga yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berjualan, lapak-lapak kecil yang sebelumnya tidak ada, mendadak hadir menghiasi pinggir jalan.

Salah seorang penjual takjil, Rinto, mengaku bahwa di hari biasa ia bukanlah pedagang makanan. Namun setiap Ramadan tiba, ia memilih beralih profesi sementara karena peluangnya cukup menjanjikan.

“Kalau sudah masuk Ramadan, jualan takjil sanggat lumayan. Jadi hampir setiap tahun, kalau tidak ada halngan pasti jualan takji, saya jual aneka kue dan gorengan,” katanya.

Baginya, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan penuh peluang. Dalam sebulan, ia bisa menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyiapkan kebutuhan lebaran nanti.

Inilah wajah Ramadan di Kota Bengkulu, bulan yang menghadirkan harmoni antara ibadah, kebersamaan, dan perputaran ekonomi rakyat kecil. Dari masjid yang ramai oleh lantunan doa, hingga sudut-sudut jalan yang dipenuhi aroma gorengan hangat, semuanya menyatu dalam suasana yang khas dan penuh makna.

Ramadan tidak hanya memberikan kebahagiaan bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah, tetapi juga menghadirkan ruang pertemuan, mempererat silaturahmi, dan membuka pintu rezeki bagi banyak orang. Semoga Ramadan tahun ini membawa kebaikan yang lebih besar, mempererat kebersamaan, dan meninggalkan cerita indah yang akan selalu dirindukan ketika bulan suci itu kembali pergi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....