Menanti Piala Dunia 2026
- 04 Mei 2026 08:35 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Hiruk pikuk itu belum benar-benar tiba, tetapi getarannya sudah mulai terasa. Di berbagai penjuru dunia, para pecinta sepak bola kini tengah menghitung hari menuju perhelatan akbar yang selalu dinanti ya Piala Dunia 2026, yang akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 mendatang.
Seperti tradisi yang berulang setiap empat tahun, suasana menjelang turnamen ini selalu menghadirkan cerita tersendiri. Dari obrolan santai di warung kopi, perdebatan hangat di media sosial, hingga analisis mendalam dari para pengamat, semuanya berpadu menjadi satu. Euforia sepak bola yang melampaui batas negara, bahasa, bahkan perbedaan.
Bagi para penggemar, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan, ia adalah momen ketika waktu seolah melambat, ketika malam-malam panjang terasa lebih hidup, dan ketika jutaan orang dari latar belakang berbeda bersatu dalam satu sorak sorai yang sama. Ada rasa kebersamaan yang sulit dijelaskan sebuah ikatan emosional yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menantikannya.
| Baca juga: Lima Pencetak Gol Terbanyak Piala Dunia 2026 |
Di Kota Bengkulu, denyut semangat itu juga mulai tumbuh, memang belum semeriah kota-kota besar lainnya, namun geliatnya perlahan terasa. Percakapan tentang tim unggulan mulai mencuat, nama-nama pemain bintang kembali disebut, dan prediksi juara menjadi bahan diskusi yang tak pernah benar-benar selesai.
Menariknya, edisi kali ini akan menghadirkan sesuatu yang berbeda, intuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia akan diikuti oleh 48 tim. Sebuah perubahan besar yang diyakini akan membuka peluang lebih luas bagi negara-negara yang selama ini jarang tampil di panggung dunia.
Pelatih Tri Brata Rafflesia sekaligus mantan pelatih PS Bengkulu, M. Nasir, melihat perubahan ini sebagai angin segar bagi perkembangan sepak bola global. Menurutnya, bertambahnya jumlah peserta akan membuat kompetisi menjadi lebih inklusif dan penuh warna.
“Dengan jumlah tim yang lebih banyak, tentu kesempatan semakin terbuka bagi negara-negara yang selama ini jarang tampil di Piala Dunia. Ini akan membuat turnamen semakin berwarna,” ujarnya, Senin 4 April 2026.
Namun di balik peluang yang semakin luas, ia juga menyoroti satu hal penting, persaingan akan menjadi jauh lebih sulit ditebak. Jika pada edisi-edisi sebelumnya publik masih bisa mengerucutkan kandidat juara sejak awal, kini peta kekuatan dinilai semakin merata.
“Sekarang hampir semua tim punya peluang. Kekuatan sudah semakin merata, sehingga sulit menentukan siapa yang akan menjadi juara,” katanya.
| Baca juga: Final Piala Dunia 2026 Dongkrak Ekonomi UMKM |
Harapan pun ikut disematkan, Dengan penyelenggaraan yang akan berlangsung di tiga negara sekaligus, Piala Dunia 2026 diharapkan mampu menghadirkan pertandingan berkualitas tinggi. Sekaligus menjadi hiburan yang mampu dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dunia.
Di sisi lain, bagi sebagian orang, sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah, ia juga menjadi ruang pelarian dari berbagai dinamika kehidupan. Ardansyah, salah seorang pecinta sepak bola di Bengkulu, melihat Piala Dunia tahun ini sebagai momentum yang lebih luas bukan hanya olahraga, tetapi juga harapan.
Menurutnya, di tengah situasi dunia yang kerap diwarnai berbagai ketidakpastian, Piala Dunia bisa menjadi jeda sejenak yang menenangkan. “Kita berharap Piala Dunia bisa meredakan suasana dunia yang sekarang ini terasa kurang baik-baik saja,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kemudahan akses bagi masyarakat untuk menikmati pertandingan. Dengan hak siar yang dipegang TVRI serta siaran melalui RRI, masyarakat dapat menyaksikan laga tanpa harus mengeluarkan biaya.
“Ini luar biasa, kita bisa menikmati Piala Dunia, mau nonton di televisi atau dengar lewat radio. Semua bisa ikut merasakan,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....