Hari Lansia, PERMAMPU Angkat Suara Perempuan dari Perdesaan

  • 03 Okt 2026 11:52 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, Bengkulu - Konsorsium PERMAMPU berkolaborasi dengan Ashoka memperingati Hari Lansia Internasional 2026 dengan mengangkat suara dan pengalaman perempuan lansia, khususnya yang tinggal di perdesaan dan kelompok marginal. Kegiatan digelar secara hibrida pada Kamis, 1 Oktober 2026, berpusat di Kota Palembang dan terhubung dengan 172 titik Zoom di 10 provinsi cakupan PERMAMPU serta jaringan di berbagai daerah.

Kegiatan tersebut diikuti 387 peserta, terdiri atas 366 perempuan dan 21 laki-laki, dari berbagai kelompok lintas generasi. Peserta meliputi perempuan lansia dan pra-lansia, perempuan muda, kader perempuan dampingan anggota dan mitra PERMAMPU di 10 provinsi di Sumatera, serta jejaring Ashoka, mitra INKLUSI, organisasi perangkat daerah, organisasi perempuan dan masyarakat sipil.

Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Konsultan FPAR PERMAMPU Niken Lestari yang memaparkan hasil asesmen kebutuhan strategis perempuan lansia di Pulau Sumatera. Hadir pula Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara Nani Zulminarni, Tirta Sutedjo dari Bappenas, perwakilan perempuan lansia dari sejumlah provinsi, serta mitra INKLUSI Tri Hastuti dari ‘Aisyiyah, Ciciek Farha dari Ledokombo dan Direktur Asosiasi LBH APIK Jakarta Khotimun Susanti.

Team Leader INKLUSI Kate Shanahan mengatakan perempuan lansia perlu mendapat ruang untuk menyampaikan pengalaman dan kebutuhan strategis mereka. Menurutnya, Hari Lansia Internasional tidak sekadar menjadi momentum peringatan, tetapi juga kesempatan untuk melihat kembali posisi perempuan lansia sebagai kelompok yang memiliki pengetahuan, kemampuan mengambil keputusan serta kontribusi sosial dan ekonomi.

Koordinator PERMAMPU Dina Lumbantobing mengatakan perempuan lansia telah menjadi bagian penting dalam pengorganisasian perempuan akar rumput anggota PERMAMPU melalui Credit Union (CU). Sekitar 20 persen anggota CU merupakan perempuan lansia sesuai definisi dalam undang-undang, sementara sebagian anggota lainnya memaknai dirinya mulai menua sejak mengalami menopause pada usia 40-an atau 50-an.

“Dukungan INKLUSI dalam penguatan perspektif GEDSI membuka dan menguatkan komitmen PERMAMPU untuk menyediakan ruang dalam mendengarkan, bersuara dan memahami kebutuhan strategis perempuan lansia, khususnya di perdesaan dan kelompok marginal,” kata Dina.

Dalam kegiatan tersebut, Konsorsium PERMAMPU memaparkan hasil asesmen kebutuhan strategis perempuan lansia dan pra-lansia melalui pendekatan Feminist Participatory Action Research (FPAR). Asesmen tersebut menghasilkan lima temuan utama yang berkaitan dengan beban perawatan, aktivitas sosial-ekonomi, akses layanan, kesehatan dan kebutuhan ruang partisipasi.

Temuan pertama menunjukkan beban kerja perawatan perempuan lansia masih tinggi dan belum sepenuhnya diakui. Perempuan lansia di perdesaan menjalankan berbagai pekerjaan perawatan, seperti mengasuh cucu, merawat anggota keluarga yang sakit atau anak dengan disabilitas, serta merawat diri sendiri sehingga diperlukan pembagian beban pengasuhan yang lebih adil.

Temuan kedua menunjukkan perempuan lansia masih aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi dan sosial. Mereka antara lain bekerja sebagai petani, pedagang dan kader Credit Union (CU).

Temuan ketiga berkaitan dengan keterbatasan transportasi dan digitalisasi yang berpotensi menimbulkan bentuk eksklusi baru. Pendaftaran layanan melalui aplikasi dan keterbatasan transportasi dapat menyulitkan perempuan lansia sehingga diperlukan fasilitas publik serta layanan kesehatan yang mudah diakses.

Temuan keempat menunjukkan kondisi kesehatan perempuan lansia berkaitan dengan pengalaman sepanjang siklus hidup. Mereka menghadapi persoalan kesehatan pascamenopause, penyakit kronis dan gangguan buang air kecil, sementara stigma mengenai seksualitas perempuan lansia masih ditemukan.

Temuan kelima menunjukkan perempuan lansia membutuhkan ruang untuk bersosialisasi, belajar dan berekspresi. Ruang curhat, rekreasi, hiburan dan pembelajaran yang inklusif dinilai penting untuk mengurangi isolasi dan kerentanan psikososial, terutama bagi perempuan lansia yang hidup sendiri dan berada dalam kondisi miskin.

Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara Nani Zulminarni mengatakan temuan tersebut sejalan dengan gagasan New Longevity atau menua dengan suka cita. Menurutnya, perempuan lansia perlu dipandang bukan sebagai beban, tetapi sebagai aset kehidupan dan kontributor yang tetap memiliki peran sepanjang hayat.

Nani juga menyampaikan lima hal yang diperlukan untuk mendukung kehidupan dalam era New Longevity, yakni kesehatan dan kesejahteraan, pengakuan terhadap orang berusia 50 tahun ke atas sebagai kontributor, kesempatan belajar dan bekerja sepanjang hayat, kolaborasi lintas generasi, serta perubahan sistem, kebijakan dan hukum yang mendukung keberagaman usia.

Tirta Sutedjo dari Bappenas menyampaikan perspektif mengenai pembangunan dan isu penuaan penduduk di Indonesia. Menurutnya, isu kelanjutusiaan telah masuk dalam RPJMN 2025–2029 melalui Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN dan menjadi salah satu isu strategis pembangunan manusia yang inklusif dalam RKP 2027.

“Temuan PERMAMPU mengenai pengalaman dan kebutuhan strategis perempuan lansia di perdesaan diharapkan dapat semakin memperkuat upaya pemerintah dalam merancang kebijakan dan program kelanjutusiaan yang inklusif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Tirta.

Koordinator PERMAMPU menegaskan pembangunan ekosistem yang ramah terhadap perempuan lansia tidak cukup hanya melalui penyediaan layanan bagi lansia. Diperlukan perubahan cara pandang dan sistem yang mengakui perempuan lansia sebagai warga yang aktif, memiliki hak, suara, pengetahuan dan kemampuan untuk terus berkontribusi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....