Teknologi Harus Diimbangi Empati dan Perlindungan bagi Perempuan serta Anak
- 30 Apr 2026 20:32 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menegaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), harus diimbangi dengan empati, hati nurani, serta perlindungan yang kuat bagi perempuan dan anak. Menurutnya, tanpa nilai kemanusiaan, pemanfaatan teknologi justru dapat memperbesar kerentanan, khususnya bagi kelompok rentan di ruang digital.
Ia menyampaikan bahwa tantangan saat ini bukan lagi soal akses terhadap teknologi, melainkan bagaimana masyarakat dapat menggunakannya secara bijak. “Dulu tantangannya adalah akses. Sekarang akses terbuka. Tantangannya adalah bagaimana kita menggunakan teknologi secara bijak tanpa kehilangan empati,” ujar Veronica Tan.
Wamen PPPA menilai semangat Raden Ajeng Kartini masih sangat relevan hingga saat ini, terutama dalam membuka akses pendidikan dan menumbuhkan keberanian untuk bermimpi. Namun di era digital, nilai tersebut harus diperkuat dengan rasa tanggung jawab agar teknologi tidak menghilangkan sisi kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa AI tidak memiliki empati, sehingga manusia tetap harus menjadikan hati nurani sebagai dasar dalam bertindak. Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat perlindungan, bukan justru menciptakan ancaman baru bagi perempuan dan anak.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, pemerintah terus memperkuat perlindungan melalui berbagai kebijakan, termasuk layanan SAPA 129 sebagai kanal pengaduan kasus perempuan dan anak. Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).
Selain itu, pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) pada 21 April 2026 sebagai bentuk pengakuan dan perlindungan hak pekerja, yang mayoritas merupakan perempuan. “Kami ingin memastikan perempuan dan anak tidak hanya terlindungi, tetapi juga berdaya,” kata Veronica Tan.
President Director Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, juga menyoroti perkembangan AI yang sangat cepat dan menuntut kesiapan semua pihak. Ia menegaskan pentingnya perempuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan berani mengambil peran agar tidak tertinggal di era AI, sejalan dengan upaya pemerintah menciptakan ekosistem digital yang aman, inklusif, dan berkeadilan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....